Pansus RPJMD Kota Semarang 2025–2029./Dok.Foto.Ist.(jurnalterkini.id/Ponco)
Semarang, jurnalterkini.id – Anggota Komisi C DPRD Kota Semarang, Dini Inayati, memberikan perhatian serius terhadap isu kemiskinan dan pengangguran dalam pembahasan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Semarang 2025–2029. Dalam rapat Panitia Khusus (Pansus) RPJMD, Selasa, 8 Juli 2025, Dini menegaskan pentingnya pendekatan pembangunan yang inklusif agar Kota Semarang dapat berkontribusi maksimal dalam pencapaian visi nasional Indonesia Emas 2045.
Politisi Fraksi PKS itu menyoroti bahwa meskipun garis kemiskinan di Jawa Tengah relatif stabil, tantangan besar terletak pada pengurangan angka pengangguran, terutama di sektor informal yang kerap luput dari intervensi kebijakan. “Penurunan pengangguran bukan sekadar capaian statistik, tapi menyangkut kualitas hidup masyarakat dan masa depan generasi muda,” ujarnya.
Dini juga menilai indikator ketenagakerjaan dan pemerataan ekonomi sebagai fondasi penting bagi pembangunan berkelanjutan dan berkeadilan. Ia meminta Pemkot Semarang untuk merumuskan strategi yang lebih tajam dan progresif dalam menekan pengangguran.
Kritik terhadap Target Kemiskinan dan Layanan Kesehatan
Dalam kesempatan itu, Dini juga mengkritik target penurunan kemiskinan dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) yang dinilainya terlalu konservatif. Ia mencontohkan bahwa pada masa pandemi sekalipun, Kota Semarang mampu menurunkan angka kemiskinan hingga 0,31 persen. Karena itu, target ke depan, menurutnya, harus lebih ambisius dan mencerminkan semangat pemulihan serta pertumbuhan yang inklusif.
Tak hanya soal ekonomi, Dini turut menyoroti lemahnya integrasi perspektif gender dalam kebijakan kesehatan. Ia menilai Dinas Kesehatan belum optimal dalam melibatkan isu perempuan dalam pelayanan publik. “Sinergi antarsektor sangat penting, terutama untuk memperkuat perlindungan perempuan dalam layanan kesehatan,” katanya.
Sorotan terhadap Angka Kematian Ibu dan Peran Puskesmas
Menanggapi paparan Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Semarang, Endah Emayanti, yang menyebut angka kematian ibu masih tinggi pada masa nifas, Dini menyambut baik upaya edukasi sejak usia remaja sebagai langkah pencegahan. Namun ia menggarisbawahi pentingnya peningkatan kualitas layanan serta pemerataan literasi kesehatan di seluruh wilayah.
Ia juga mendorong pemanfaatan teknologi digital di Puskesmas agar dapat menjalankan peran ganda, tidak hanya sebagai fasilitas layanan dasar, tapi juga pusat edukasi dan deteksi dini penyakit tidak menular serta kekerasan berbasis gender.
“Puskesmas harus jadi ujung tombak membangun ketahanan keluarga, bukan sekadar tempat skrining,” ujar Dini menutup pernyataannya.(PH)





