Indonesia Berharap Proses Transisi di Suriah Berlangsung Inklusif, Demokratis, dan Damai

Pemimpin kelompok Islamis Hayat Tahrir al-Sham (HTS) Suriah yang memimpin serangan kilat pemberontak untuk merebut Damaskus, Abu Mohammed al-Jolani, berbicara di hadapan khalayak di Masjid Umayyah yang merupakan bangunan bersejarah di Damaskus, Minggu, 8 Desember 2024. (foto: AFP)
Pemimpin kelompok Islamis Hayat Tahrir al-Sham (HTS) Suriah yang memimpin serangan kilat pemberontak untuk merebut Damaskus, Abu Mohammed al-Jolani, berbicara di hadapan khalayak di Masjid Umayyah yang merupakan bangunan bersejarah di Damaskus, Minggu, 8 Desember 2024. (foto: AFP)

Campur Tangan Proksi Negara-negara Besar?

Dihubungi secara terpisah, Mohamad Rosyidin, pengamat hubungan internasional di Universitas Diponegoro mengatakan perang yang terjadi Suriah saat ini merupakan kelanjutan dari perang tahun 2011. Yang memperburuk situasi adalah karena campur tangan proksi negara-negara besar, di mana Rusia mendukung Assad, sementara Barat mendukung kelompok pemberontak.

Bacaan Lainnya

Rosyidin memahami jika militer Amerika masih tetap bertahan di bagian timur Suriah mengingat sel-sel ISIS yang masih tersisa kemungkinan akan bangkit kembali untuk mengambil keuntungan dari jatuhnya rezim Assad. ISIS, tambahnya, dapat saja melakukan konsolidasi dan kemudian menjelma sebagai organisasi dalam bentuk lain. [voa]

Jaringan: VOA

Total Views: 638

Pos terkait