Indonesia Berharap Proses Transisi di Suriah Berlangsung Inklusif, Demokratis, dan Damai

Pemimpin kelompok Islamis Hayat Tahrir al-Sham (HTS) Suriah yang memimpin serangan kilat pemberontak untuk merebut Damaskus, Abu Mohammed al-Jolani, berbicara di hadapan khalayak di Masjid Umayyah yang merupakan bangunan bersejarah di Damaskus, Minggu, 8 Desember 2024. (foto: AFP)
Pemimpin kelompok Islamis Hayat Tahrir al-Sham (HTS) Suriah yang memimpin serangan kilat pemberontak untuk merebut Damaskus, Abu Mohammed al-Jolani, berbicara di hadapan khalayak di Masjid Umayyah yang merupakan bangunan bersejarah di Damaskus, Minggu, 8 Desember 2024. (foto: AFP)

Kemlu RI: Ada 1.162 WNI di Suriah

Direktur Perlindungan Warga Negara Indonesia Kementerian Luar Negeri, Judha Nugraha mengatakan saat ini tercatat ada 1.162 WNI di Suriah, yang mayoritasnya adalah pekerja rumah tangga dan pelajar. Mereka tersebar di berbagai wilayah, termasuk 29 yang di Aleppo dan enam di Homs. Aleppo dan Homs adalah dua wilayah yang menjadi pusat pergolakan di Suriah.

Bacaan Lainnya

Menurut catatan KBRI, saat ini tercatat 758 WNI tinggal di Damaskus, 321 di Hasaka , 17 di Tartus, 20 di Latakia, dan 8 di Rif Damaskus.

Kelompok Pemberontak Suriah

Pengamat hubungan internasional di Universitas Padjadjaran Arfin Sudirman mengatakan jatuhnya rezim Assad ini akan berdampak luas ke Timur Tengah, terutama karena kuatnya tarik menarik di antara Rusia dan Amerika yang sama-sama memiliki pangkalan militer di sana. Juga pengaruh luas Turki pada kelompok-kelompok di dalam Suriah.

Berbeda dengan kelompok pemberontak ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah) yang menguasai sebagian Suriah dan Irak pada 2014, kelompok pemberontak yang menguasai Damaskus saat ini murni ingin menggulingkan Assad tanpa berpretensi menyebarluaskan ideologi ekstrem, tambah Arfin. “Setidaknya untuk saat ini saya melihatnya masih konflik domestik, belum sampai pada yang sifatnya transnasional,” tegasnya.

Arfin memproyeksikan kubu oposisi akan berdialog dengan kelompok kelompok pemberontak guna mencapai kompromi dengan pihak Assad agar tidak terjadi pertumpahan darah. Mengingat warga Suriah sudah sangat menderita karena konflik dan perang saudara berkepanjangan sejak tahun 2011, maka jika hingga tenggat waktu tertentu tidak tercapai kompromi, Arfin menilai sebaiknya PBB mengambil alih tanggung jawab sementara.

Total Views: 636

Pos terkait