Bolos Nyoblos demi Gaza
Isu Gaza nampaknya berdampak pada loyonya suara Partai Demokrat pada pemilu kali ini, khususnya bagi para pemilih muslim Amerika.
Di Dearborn, Michigan–salah satu kota dengan populasi Arab-Amerika terbesar–Kamala Harris hanya mencetak 36% perolehan suara, anjlok dari sekitar 70% suara Presiden Joe Biden pada 2020. Rivalnya, Donald Trump, justru mendapat suara lebih tinggi tahun ini: 42%.
Rasa frustrasi terhadap posisi para capres soal isu Gaza, juga disuarakan diaspora lainnya yang memilih bolos nyoblos tahun ini.
“Saya memutuskan untuk tak nyoblos tahun ini karena saya tak senang dengan kedua kandidat,” kata seorang diaspora Amerika yang tak ingin disebutkan namanya kepada VOA.
“Mereka tak mewakili prinsip dasar diri saya, dan saya tak bisa secara sadar memilih seseorang yang tak sreg dengan saya,” jelasnya.
Pemilu kali ini seharusnya menjadi kesempatan nyoblos perdana sang diaspora dari luar negeri, yang sudah 2,5 tahun mendiami Indonesia. Namun, keengganannya untuk nyoblos kali ini juga jadi kesempatan untuk mengkritisi sistem dua partai besar Amerika: Demokrat dan Republik.
Di Dearborn, Stein menerima 18% suara. Ia pun didukung beberapa tokoh masyarakat Arab, muslim, serta para pejabat di Michigan.
Namun, bagi diaspora anonim yang sempat tinggal di wilayah Midwest Amerika dan New York ini, suara partai ketiga “tak berpengaruh” dan “tak punya dampak signifikan”.
“Perlu semacam revolusi untuk capres partai ketiga bisa bersinar sebagai kandidat dengan potensi besar,” sebutnya.
Jerry juga menyuarakan hal serupa.
“Ada Jill Stein, ada Robert F. Kennedy (Jr.-red) … Mereka tak punya jalur nyata untuk bisa menang,” papar Jerry. “Saya rasa posisi Jill Stein progresif-positif, tapi dia hanya mengambil suara kandidat lain.”
Namun, bagi diaspora anonim yang tak nyoblos, ia punya keyakinan tersendiri.
“Memilih kandidat partai ketiga atau memilih tidak nyoblos, juga sebuah pernyataan tersendiri, akan ketidakpuasan terhadap status quo,” tutupnya.





