Ragam Isu Memilih Orang Nomor Satu
Tak cuma soal Gaza, berbagai pertimbangan menjadi perhatian serius para diaspora Amerika dalam pesta demokrasi empat tahunan ini.
Beberapa singgung soal isu imigran, yang jadi bola panas dalam debat Harris dengan Trump maupun wakilnya masing-masing, Tim Walz dengan J.D. Vance.
“Kita butuh imigrasi yang legal. Kita selalu punya (sistem) imigrasi,” kata Douglas, yang juga mengeluhkan mahalnya layanan kesehatan serta riskannya sistem jaminan sosial di Amerika.
“Amerika butuh banyak orang, kami butuh pekerja supaya ekonomi terus berputar.”
“Imigran, termasuk yang berasal dari Indonesia, merekalah yang membuat Amerika hebat,” kata Ben Wagner, diaspora Amerika lainnya yang sudah 1,5 tahun menetap di Indonesia.
Ben juga menyuarakan soal demokrasi dan independensi media serta pers.
Keberlanjutan tata negara Paman Sam di masa depan lalu dipertanyakan Jerry: “Apakah sistem Amerika tetap dapat dikenali?”
“Singkatnya, pemilu terakhir itu penting, dan ternyata pemilu kali ini juga penting karena alasan yang sama,” tutup Jerry.
Bagi diaspora lain, seperti Alison Emerick asal Colorado, hak-hak perempuan dan isu aborsi menjadi fokusnya.
Sebagai seorang perempuan, pemilu kali ini super penting,” kata kreator konten keluarga di Bali ini.
“Kami nyoblos demi hak-hak perempuan, hak reproduksi, supaya tak mundur lagi ke belakang dengan capaian-capaian yang sudah kami raih sebagai perempuan.”
Alison sudah meninggalkan Amerika sejak 2019. Ia sudah dua tahun tinggal di
Indonesia, sebelum nantinya pindah ke Eropa tahun depan.
“Saya seorang warga Amerika,” katanya.
“Saya peduli dengan apa yang terjadi pada negara saya.” [voa]
Jaringan: VOA





