‘Microschool’ di Indonesia, Kecil Tapi Tak Kalah Prestasi

Murid-murid Sekolah Bisa dan hasil kebun hidroponik mereka. (dok. Sekolah Bisa)
Murid-murid Sekolah Bisa dan hasil kebun hidroponik mereka. (dok. Sekolah Bisa)

Tak Kalah Prestasi

Irwan menambahkan, sebagai microschool, Sekolah Bisa dapat menghasilkan lulusan yang tidak kalah kemampuan akademiknya dengan lulusan dari sekolah formal, termasuk di sekolah-sekolah negeri.

Bacaan Lainnya

Salah seorang di antara alumni kebanggaan Sekolah Bisa adalah Turmudi. Semasa MTs (madrasah tsanawiyah, setingkat SMP), katanya, “Rankingnya tidak pernah jauh di peringkat lima. Itu malah seperti kejar-kejaran saya dan teman saya, saya pernah ranking satu, kadang ranking dua, tapi ranking tiga sih jarang.”

Turmudi menikmati dan mensyukuri masa bersekolah dengan murid 4-5 orang di kelasnya di Sekolah Bisa.

Membandingkan pengalamannya setelah menempuh pendidikan formal, ia mengatakan, “Plusnya kami tidak perlu khawatir terhadap bullying atau perundungan yang bisa saja terjadi jika kami bersekolah di sekolah umum, karena memang latar belakang kami yang kurang baik dibandingkan anak-anak lain di luar sana. Dengan siswa yang sedikit dan teman-teman yang saya sendiri sudah tahu bagaimana mereka berteman, bagaimana mereka memperlakukan temannya sendiri, kita tidak perlu khawatir, nantinya kita akan sakit hati, nantinya kita akan marah-marahan, nantinya kita akan down.”

Tidak ada yang ia rasa perlu tutupi mengenai kehidupannya karena latar belakang kehidupannya tak jauh berbeda dengan teman-temannya. Turmudi sendiri berayah seorang buruh bangunan lepas dan ibunya seorang pengamen yang membawanya turut mengamen di jalan-jalan. Karena kendala biaya, ia hanya sebentar menduduki bangku sekolah formal. Keinginan yang besar untuk mengubah nasib membuatnya belajar giat dan bekerja keras, sampai akhirnya ia berhasil masuk sekolah negeri, dan lulus dari SMK jurusan akuntasi. Ia kini bekerja di sebuah perusahaan ritel Jepang.

Meski di Sekolah Bisa ia tidak bisa merasakan kehadiran sekolah dan lapangan yang besar, ruang kelas dan teman yang banyak, ia mengaku senang bersekolah di sana. “Karena memang pilihan kami bukan soal mau sekolah di mana, tapi pada saat itu pilihan kami hanya ingin sekolah,” ujarnya.

Orientasi pada murid

Djodi mengemukakan, di kelas yang kecil, murid-murid memiliki perasaan aman dan nyaman secara psikologis. “Jadi kita mau berpendapat, mau nggak setuju, mau menyampaikan unek-unek, atau kesenangan hatinya, itu nggak mikir gitu, jadi langsung lebih lepas, dan lebih kenal satu sama lain, lebih intim. Jadi anak-anaknya tidak jaim,” jelas pemegang gelar Master Pendidikan dari University of Pennsylvania itu.

Irwan sependapat dengan Djodi mengenai pendekatan dalam belajar di sekolahnya. “… kalau menghadapi anak-anak itu lebih personalized karena memang anak itu, apalagi anak-anak kami, punya keunikan sendiri,” jelasnya mengacu pada latar belakang keluarga mereka. Pendekatan seperti itu, yang membebaskan murid bercerita tentang keluarga atau mengadukan masalah yang sedang dihadapi, membuat sejumlah murid merasa lebih senang ketika berada di sekolah, kata Irwan.

Total Views: 856

Pos terkait