‘Microschool’ di Indonesia, Kecil Tapi Tak Kalah Prestasi

Murid-murid Sekolah Bisa dan hasil kebun hidroponik mereka. (dok. Sekolah Bisa)
Murid-murid Sekolah Bisa dan hasil kebun hidroponik mereka. (dok. Sekolah Bisa)

Dana operasional

Menurut catatan National Microschooling Center, microschool di AS mendapatkan dana dari beragam sumber. Selain ada yang mendapat dana dari pemerintah negara bagian, sekolah-sekolah itu memungut bayaran dari orang tua. Sebagian besar, 43 persen, memungut $5.000-$10.000 per tahun, dan 30 persen memungut di bawah $5.000.

Bacaan Lainnya

Irwan mengemukakan, sepengetahuannya microschool di Indonesia, terutama di wilayah Tangerang Selatan, banyak yang menggratiskan biaya pendidikan, karena pengelola mendedikasikan sekolahnya untuk anak-anak yang membutuhkan.

Sekolah Bisa, yang merekrut lima guru serta empat sukarelawan pengajar dan berkapasitas maksimal 25 murid ini, menggratiskan sepenuhnya biaya pendidikan di sana, termasuk seragam, antar jemput murid bahkan sarapan dan makan siang. “Sumber (dana) operasional itu kita dapatkan dari para donatur secara pribadi ataupun secara korporat,” jelas Irwan.

Sementara itu, untuk membiayai operasionalnya, Bright Microschool memungut bayaran per jam yang hitungannya disesuaikan dengan kondisi muridnya. Murid-muridnya datang dua hingga tiga kali per minggu untuk pertemuan selama dua hingga tiga jam.

Kurikulum

Djodi mengemukakan, murid-muridnya tidak hanya belajar sesuai kurikulum sekolah. “Kita punya kurikulum yang kita rancang sendiri, punya nilai-nilai yang diajarkan, tapi buat menyenangkan hati orang tua, kita juga memberi pelajaran sekolahnya. Kita bantu juga pelajaran sekolahnya. Karena orang tua kan senang anaknya juga meningkat prestasi sekolahnya,” ujarnya.

Sementara itu, Sekolah Bisa menggunakan kurikulum nasional karena di tingkat pendidikan selanjutnya, murid-muridnya ditargetkan untuk belajar bersama anak-anak lulusan SD formal. “Secara kemampuan, kurikulum kita harus memberikan kesetaraan,” tegasnya.

Namun sekolah itu mengombinasikan kurikulum tersebut dengan green curriculum.

“Murid-murid Sekolah Bisa nantinya diharapkan menjadi insan yang ramah terhadap lingkungan, sayang kepada alam semesta, saling menghormati, saling menghargai, bersikap toleran,” kata Irwan.

Total Views: 860

Pos terkait