Israel dan Hizbullah Saling Luncurkan Ratusan Serangan Rudal

Para petugas tanggap darurat membereskan reruntuhan di lokasi yang menjadi target serangan Israel di pinggiran Kota Beirut, Lebanon, pada 22 September 2024. (Foto: AP/Bilal Hussein)
Para petugas tanggap darurat membereskan reruntuhan di lokasi yang menjadi target serangan Israel di pinggiran Kota Beirut, Lebanon, pada 22 September 2024. (Foto: AP/Bilal Hussein)

Kementerian Kesehatan Lebanon mengatakan bahwa satu orang tewas dan satu lainnya terluka dalam serangan Israel di dekat perbatasan.

Gempuran itu terjadi setelah serangan udara Israel di Beirut pada hari Jumat yang menewaskan sedikitnya 45 orang, termasuk salah satu pemimpin utama Hizbullah, Ibrahim Aqil, serta perempuan dan anak-anak.

Bacaan Lainnya

Meskipun menyerukan para pihak untuk menahan diri agar konflik Hizbullah-Israel tidak berkembang, Kirby kepada jaringan televisi Fox mengatakan, “Dunia akan lebih baik tanpa Aqil berkeliaran.”

Militer Israel mengatakan bahwa mereka telah melancarkan gelombang serangan di Lebanon selatan selama sehari terakhir, menghantam sekitar 400 lokasi militan, termasuk peluncur roket.

Letnan Kolonel Nadav Shoshani, juru bicara militer Israel, mengatakan serangan itu telah menggagalkan serangan yang lebih besar.

“Ratusan ribu warga sipil telah diserang di banyak wilayah Israel utara. Mereka menjalani malam dan sekarang pagi di tempat perlindungan bom,” katanya. “Hari ini kami melihat api yang lebih dalam ke Israel daripada sebelumnya.”

Israel dan Hizbullah saling serang sejak pecahnya perang di Gaza pada 7 Oktober lalu, ketika kelompok militan itu mulai menembakkan roket sebagai bentuk solidaritas dengan Palestina dan sekutunya yang didukung Iran, Hamas. Pertempuran tingkat rendah itu telah menewaskan puluhan orang di Israel, ratusan orang di Lebanon, dan membuat puluhan ribu orang mengungsi di kedua sisi perbatasan.

Hingga baru-baru ini, kedua pihak diyakini tidak menginginkan perang habis-habisan, dan Hizbullah sejauh ini tidak menargetkan Tel Aviv atau infrastruktur sipil utama. Namun dalam beberapa minggu terakhir, Israel telah mengalihkan fokusnya dari Gaza ke Lebanon dan berjanji untuk mengembalikan ketenangan di perbatasan sehingga warganya dapat kembali ke rumah mereka.

Hizbullah mengatakan bahwa mereka hanya akan menghentikan serangannya jika ada gencatan senjata di Gaza, yang tampaknya semakin sulit dicapai. Perang di Gaza dimulai dengan serangan mengejutkan Hamas pada bulan Oktober ke Israel, di mana militan Palestina menewaskan sekitar 1.200 orang dan menyandera sekitar 250 orang lainnya.

Mereka masih menahan sekitar 100 tawanan, sepertiga di antaranya diyakini telah tewas. Lebih dari 41.000 warga Palestina telah tewas, sebagian besar adalah perempuan dan anak-anak, menurut Kementerian Kesehatan Gaza, sementara militer Israel mengatakan jumlah korban tewas mencakup ribuan pejuang Hamas. [voa]

Jaringan: VOA

Total Views: 509

Pos terkait