Hal lain itu, tambah Azril, adalah kenyamanan dan keamanan ketika berbelanja, berbagai festival yang menawarkan potongan diskon dan keunikan khusus, dan terjaganya multi-kulturalisme.
Selain harga tiket yang lebih murah, Fajar berpendapat ada nilai lebih yang diperoleh dari pengalaman berkunjung ke Singapura untuk wisatawan Indonesia.
“Sekarang paradigmanya, terutama wisatawan Indonesia jalan-jalan ke luar negeri itu bukan lagi untuk belanja sih pak, tetapi lebih kepada eksistensi. Sekarang ada medsos, jadi mereka pengen upload di medsosnya, terus apa namanya, check in, sedang di sini, sedang di sana. Itu menjadi salah satu alasan orang-orang Indonesia lebih memilih Singapore dari pada Indonesia,” jelas Fajar.
Sementara promosi wisata Indonesia masih memiliki kelemahan, tambahnya. “Promosi ini yang harus lebih digencarkan lagi. Gaya promosi yang lama-lama sudah harus ditinggalkan! Contoh kita (Indonesia.red) sering melakukan promosi kebudayaan ke luar negeri, ke mana-kemana, tetapi sifatnya, ya sudah, mengadakan pertunjukan tari-tarian dalam pameran. Begitu didatangi dan ditanya orang, tidak ada paket wisatanya.”
Ia mencontohkan bagaimana saat promosi kebudayaan atau acara-acara khusus, banyak negara membuat beragam paket wisata yang bahkan bisa langsung dipesan saat itu juga.
Kelemahan lain, kata Fajar, adalah kurangnya memanfaatkan media sosial dan pemengaruh (influencer).
Kemenparekraf Galakkan Pembenahan
Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) menargetkan untuk menarik 14,3 juta wisatawan mancanegara termasuk 1,5 juta wisatawan asal Tiongkok, pada tahun 2024 ini.
Selain mempersiapkan destinasi pariwisata super prioritas seperti Candi Borobudur di Jawa Tengah, Danau Toba di Sumatera Utara, Pantai Likupang di Sulawesi Utara, Labuan Bajo di NTT, dan Mandalika di NTB; pemerintah juga menggerakkan ribuan obyek wisata lain.
Untuk meningkatkan daya saing di ASEAN, Kemenparekraf menyederhanakan berbagai aturan dan mengurangi pajak hiburan.
Sementara untuk menarik lebih banyak wisatawan Tiongkok, pemerintah sedang memfinalisasi kebijakan bebas visa, yang diharapkan rampung sebelum akhir tahun ini dan membuat wisatawan Tiongkok berbondong-bondong datang ke Indonesia. [voa]
Jaringan: VOA





