“Jadi kalau ada scientist (ilmuwan-red) yang bilang Jakarta mungkin 50 persen akan tenggelam di tahun 2030-2050. Sebenarnya ini sudah di depan mata bukan prediksi di 2030-2050 lagi, tapi sekarang sebenarnya sudah tenggelam di beberapa titik di Jakarta Utara,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Divisi Kampanye Eksekutif Nasional Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Fanny Tri Jambore mengatakan sebenarnya secara global, 2023 sudah dinyatakan sebagai tahun terpanas bumi. Namun menurutnya untuk di Indonesia sendiri, 2016 masih tercatat sebagai tahun terpanasnya.
Meski begitu, Fanny mengungkapkan bahwa semua negara harus ikut andil dalam upaya menurunkan emisi gas rumah kaca agar krisis iklim tidak semakin memburuk dari waktu ke waktu.
Senada dengan Hadi, Fanny melihat bahwa pemerintah Indonesia belum serius berupaya dalam menyelesaikan permasalahan ini. Apalagi, pada 2023, Indonesia berada pada urutan ke-9 di dalam daftar negara penghasil emisi gas rumah kaca.
“Akar masalah yang kemudian belum dengan serius diselesaikan oleh pemerintah. Kita masih menggunakan berbagai bahan bakar fosil, kita masih mengekstraksi bahan bakar fosil. Bahkan di 2023 kemarin Indonesia masuk ke dalam daftar negara penghasil emisi nomor 9 di seluruh dunia,” ungkap Fanny.
Jika hal ini terus dibiarkan, katanya bisa mengancam kestabilan pangan nasional. Dengan cuaca yang tidak bisa diprediksi dengan tepat maka akan mengakibatkan gagal panen.
“Ketidakstabilan pangan itu akan mengakibatkan krisis dan bisa mengakibatkan konflik, Jadi efek dari pemanasan global dan perubahan iklim bukan hanya sekedar cuaca di sekitar kita, tetapi merembet ke semua sendi-sendi kehidupan kita,” pungkasnya. [voa]
Jaringan: VOA





