Ini bukan pertama kalinya Amerika mengesampingkan prinsip HAM untuk kepentingan geostrategis. Tahun lalu, Joe Biden menyambut dengan mewah Perdana Menteri India Narendra Modi ke Gedung Putih dalam sebuah kunjungan kenegaraan resmi. Modi merupakan sosok Hindu-Nasionalis yang dikenal kerap menindak kelompok oposisi dan memberangus kebebasan pers. Rivalitas dengan Tiongkok mendorong Amerika mengambil kebijakan ini.
Melalui lensa tersebut, Indonesia juga menjadi negara yang dianggap strategis oleh Amerika, khususnya untuk mewujudkan visi AS tentang Indo-Pasifik yang aman, dengan meredam pengaruh Tiongkok di kawasan.
Terlepas dari hal-hal tersebut, dibanding dua kandidat lain, Prabowo adalah sosok yang lebih dikenal Amerika. Ia merupakan lulusan pendidikan militer di Amerika tahun 1980-an. Sebagai menteri pertahanan, dia juga berusaha mempererat hubungan militer dan pembelian senjata dengan Amerika.
Selain itu, Prabowo dan pasangannya, Gibran Rakabuming Raka, putra sulung Presiden Jokowi, juga berniat melanjutkan program-program pemerintahan Jokowi. Anreyka Natalegawa menilai hal-hal ini bakal meminimalisir ‘kejutan’ yang mungkin dihadapi Washington di kemudian hari.
“Mengingat kesinambungan antara pemerintahan Jokowi saat ini dengan apa yang akan menjadi pemerintahan Prabowo ke depan, saya rasa Washington setidaknya merasakan suatu kemudahan untuk bekerja sama dengan pemerintahan baru yang akan datang,” tukasnya. [voa]
Jaringan: VOA




