PIF juga memiliki empat klub di Liga Pro Saudi dan berhasil menarik bintang-bintang kelas dunia, termasuk Cristiano Ronaldo dan Neymar dengan iming-iming gaji besar.
Investasi tersebut memicu tuduhan bahwa pemerintah sedang melakukan “sportwashing” untuk meredam kritik internasional terhadap catatan hak asasi manusia negara tersebut.
Sportwashing adalah strategi memanfaatkan kegiatan olahraga untuk menunjang reputasi suatu kelompok. MIsalnya, dengan menjadi tuan rumah turnamen olahraga atau mendukung tim tertentu.
Arab Saudi pada awalnya tertarik untuk ikut serta dalam tender Piala Dunia 2030 bersama Mesir dan Yunani. Namun ide tersebut dibatalkan pada Juni, sehingga membuka jalan bagi pencalonan tiga benua yaitu Spanyol, Portugal dan Maroko, dengan tiga pertandingan di Amerika Selatan.
Arab Saudi mengumumkan niatnya untuk mengajukan penawaran pada Piala Dunia 2034 pada 4 Oktober, segera setelah FIFA mengumumkan prosedurnya.
Sebagai akibat dari rotasi benua, FIFA hanya “mengundang” negara-negara anggota konfederasi Asia dan Oseania untuk mengajukan permohonan sehingga mengesampingkan basis sepak bola tradisional.
Indonesia sempat mempertimbangkan untuk mengajukan penawaran bersama dengan Australia, atau bahkan negara lain seperti Selandia Baru, Malaysia, dan Singapura. Namun pada 19 Oktober Indonesia setuju untuk mendukung penawaran Arab Saudi.
Australia juga merupakan salah satu pesaing tetapi membatalkan niatnya menyusul keputusan Konfederasi Sepak Bola Asia untuk mendukung pencalonan Saudi. [voa]
Jaringan: VOA





