Inflasi 2024 Ditargetkan Terkendali pada Kisaran 2,5 Persen

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam High Level Meeting Tim Pengendalian Inflasi Pusat (HLM TPIP) 2024, di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Senin (29/01). (ekon.go.id)
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam High Level Meeting Tim Pengendalian Inflasi Pusat (HLM TPIP) 2024, di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Senin (29/01). (ekon.go.id)

“Kalau produktivitas padi kita turun seperti tahun kemarin, harga pasti otomatis naik karena suplainya tidak cukup, otomatis harga pasti naik. Itu kejadian di semua negara,” tutur Jokowi.

Sementara itu, Ekonom CORE Indonesia Muhammad Faisal menyebutkan bahwa target inflasi yang dipatok pemerintah pada tahun ini cukup realistis.

Bacaan Lainnya

“Kalau dari kami sendiri, itu tidak akan jauh berbeda dari inflasi tahun 2023 kemarin, yakni di kisaran 2,6-2,8 persen. Jadi artinya kalau 2,5 persen plus minus satu persen masih dalam target,” ungkap Faisal.

Lebih jauh ia menjelaskan target inflasi ini akan tercapai asalkan pemerintah pada tahun 2024 ini tidak melakukan kebijakan kenaikan administrative price inflation atau tidak menaikkan harga-harga barang yang diatur oleh pemerintah.

“Itu yang tidak terjadi di 2023, karena di 2023 pemerintah mengatakan bahwa tidak akan ada kebijakan yang menaikkan BBM, gas elpiji atau apapun yang menyebabkan inflasi meningkat pada tahun 2023 dan itu memang dijalankan. Tidak seperti tahun 2022, ketika ada kenaikan harga minyak dunia kemudian dinaikan harga BBM di September, inflasi langsung meningkat naik satu persen,” jelasnya.

Terkait mundurnya musim panen beras yang menurut perkiraan satu bulan menurutnya juga tidak akan mendongkrak inflasi pada tahun ini. Apalagi pemerintah juga berencana melakukan impor beras sebanyak 3 juta ton pada 2024.

Sedangkan dari faktor global menurutnya tidak akan ada faktor-faktor penting yang bisa mengerek inflasi global, kecuali jika ada kejadian-kejadian yang tidak terduga.

“Jadi artinya dorongan global untuk mendorong inflasi di domestik itu juga relatif rendah, kecuali ada hal-hal yang tidak terprediksi, misalnya faktor geopolitik. Jadi kalau tiba-tiba ada konflik, yang konfliknya itu melibatkan negara-negara yang punya pengaruh terhadap komoditas atau terhadap harga minyak, ini yang kita tidak bisa prediksikan dan kalau itu terjadi berarti memang akan berpengaruh terhadap inflasi global. Tapi sejauh ini, kemungkinannya kecil,” pungkasnya. [voa]

Jaringan: VOA
Editor: M Sarih

Total Views: 719

Pos terkait