Inflasi 2024 Ditargetkan Terkendali pada Kisaran 2,5 Persen

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam High Level Meeting Tim Pengendalian Inflasi Pusat (HLM TPIP) 2024, di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Senin (29/01). (ekon.go.id)
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam High Level Meeting Tim Pengendalian Inflasi Pusat (HLM TPIP) 2024, di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Senin (29/01). (ekon.go.id)

Bantuan Pangan Beras dan Bantuan Langsung Tunai

Dalam kesempatan ini, Airlangga juga memaparkan bahwa program bantuan pangan berupa beras 10 kilogram per bulan akan dilanjutkan hingga Juni 2024 dengan sasaran 22 juta keluarga penerima manfaat (KPM).

Bacaan Lainnya

Selain itu, pemerintah pada tahun ini juga akan menyalurkan bantuan langsung tunai (BLT) senilai Rp200 ribu per bulan selama tiga bulan.

“Itu diberikan untuk sekitar 18,8 juta penduduk dan ini berbeda dengan bantuan pangan yang 22 juta. Itu biasanya masyarakat di bawah bertanya kenapa saya dapat beras tetapi tidak dapat BLT cash. Tentu dengan data yang berbeda itu tergantung kepada kemarin data yang dari PMK terkait dengan data tersebut. Ini kita baru anggarkan yang disetujui oleh Bu menkeu dievaluasi tiga bulan. Jadi sampai Maret dulu nanti kita evaluasi baru berikutnya nanti kita lihat kembali,” ungkap Airlangga.

BLT tersebut, jelasnya digelontorkan untuk menggantikan program BLT El-Nino yang diberikan kepada masyarakat untuk dua bulan pada tahun lalu yakni November dan Desember 2023 yang jumlah sasarannya juga sama.

Program bantuan pangan berupa beras tersebut merupakan program penyaluran bantuan dari pemerintah melalui cadangan beras pemerintah (CBP). Setiap keluarga menerima 10 kilogram per bulannya dalam program ini.

Pada saat membagikan bantuan pangan beras di Yogyakarta, Presiden Joko Widodo menyebut alasan pemerintah menggelontorkan bantuan ini sebagai akibat dari kenaikan harga beras dan gagal panen yang terjadi hampir di seluruh dunia.

“Kenapa bantuan beras ini kita berikan? Karena memang di seluruh dunia, di semua negara itu harga berasnya terkerek naik semuanya, naik. Karena apa? Panennya banyak yang gagal, panennya banyak yang puso,” ujar Jokowi.

Jokowi menjelaskan bahwa kegagalan panen tersebut diakibatkan perubahan iklim. Hal ini menyebabkan 22 negara menghentikan kebijakan ekspor berasnya dan lebih memprioritaskan beras untuk kebutuhan di dalam negerinya.

“Oleh sebab itu, kita kesulitan untuk membeli beras di negara-negara lain karena beras mereka dipakai sendiri untuk rakyatnya,” imbuhnya.

Untuk itu, kepada para petani dia menekankan pentingnya meningkatkan produktivitas padi. Dengan demikian diharapkan suplai beras menjadi melimpah sehingga harga beras bisa ditekan lagi.

Total Views: 718

Pos terkait