Saat ini, lahan food estate di Indonesia yang dikerjakan pemerintah berada di Humbang Hasundutan seluas 418,29 hektare. Untuk food estate Temanggung dan Wonosobo seluas 907 hektare telah berhasil panen komoditas hortikultura.
Sedangkan, Kalimantan Tengah berhasil melakukan intensifikasi dan ekstensifikasi lahan hingga mampu panen padi dengan produktivitas 5 ton per hektare. Begitu pula di Sumba Tengah NTT dan Kabupaten Keerom Papua yang telah mampu panen raya jagung seluas 500 hektare.
WALHI Kalteng Bantah Klaim Mentan
Sementara itu Direktur Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Kalimantan Tengah Bayu Herinata membantah klaim keberhasilan panen jagung di food estate Kalimantan Tengah oleh pemerintah.
Pihaknya, kata Bayu, terakhir meninjau lahan food estate di kabupaten Gunung Mas tersebut pada 23 Januari. Ia menuturkan bahwa setidaknya ada sepuluh hektar lahan yang ditanami komoditas jagung dan singkong masing-masing lima hektare.
Untuk tanaman singkong sendiri yang ditanam pemerintah lebih awal dari 2021 hingga 2023 sama sekali belum panen. Pemerintah sendiri, katanya mulai menanam kembali singkong ditambah jagung pada Oktober 2023.
Pada saat peninjauan terakhir pada 23 Januari, tinggi tanaman singkong itu baru sejengkal orang dewasa. Sementara untuk jagung, ia akui memang bisa tumbuh, tetapi kualitas dari jagung tidak layak untuk dikonsumsi karena sangat kering.
“Kalau melihat masa tanam jagung 60 hari harusnya sudah bisa dipanen untuk bisa dimanfaatkan lagi sebagai bahan pangan. Kondisinya (jagung) sangat kering, jadi tidak tahu (apakah bisa dikonsumsi-red). Mungkin dijadikan bibit lagi atau bagaimana, juga setiap batang jagungnya tidak berbuah maksimal, bulir-bulirnya jarang,” ungkap Bayu.





