Ketiga tokoh ini adalah bagian dari Koalisi Indonesia Maju KIM yang mendukung Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka sebagai calon presiden nomor urut dua. Satu-satunya pemimpin partai dari koalisi ini yang belum kunjung diajak makan oleh Jokowi adalah Partai Demokrat.
Kepada wartawan, Ketua Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono mengatakan tak ambil pusing dengan hal itu. Ia menggarisbawahi tekadnya untuk membantu memenangkan duet Prabowo-Gibran dan sekaligus melipatgandakan perolehan suara Partai Demokrat di pemilu legislatif.
JK: Jika (Presiden) Tidak Adil, Berarti Melanggar Sumpah
Dua hari setelah tiga pertemuan yang dilangsungkan presiden di luar Istana Kepresiden itu, mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla tampaknya mengirim isyarat dengan mengatakan “presiden dan pejabat negara seharusnya bersikap netral” dalam pemilu.
“Netralitas presiden itu ada dalam sumpah seorang presiden. Sumpah itu diawali dengan demi Allah… saya akan melaksanakan tugas sebaik-baiknya dan seadil-adilnya. Jika tidak adil, berarti melanggar sumpah, yang lebih tinggi dari undang-undang, apalagi diambilnya pake Al-Qur’an. Jadi jika ada pejabat, bukan hanya presiden, yang melanggar sumpah maka dia kena dua, Allah kena, undang-undang juga kena,” sebutnya.
Dengan cepat Kepala Kantor Staf Presiden Moeldoko membantah pernyataan Kalla, meskipun ia tidak menjawab pertanyaan tentang pertemuan-pertemuan yang dilakukan presiden.
“Pernyataan itu subyektif. Jika subyektif ya sulit melihat secara utuh. Jika belum apa-apa sudah subyektif melihat sesuatu maka bisa-bisa salah,” kata Moeldoko.






