Dialog Bersama Kadin, Para Capres Ungkap Jurus Tarik Minat Anak Muda Jadi Petani

Tak ada anak muda di tengah kesibukan petani memanen tanamannya. (Foto: VOA/Nurhadi)
Tak ada anak muda di tengah kesibukan petani memanen tanamannya. (Foto: VOA/Nurhadi)

Ia menyatakan apabila semua pemangku kepentingan, seperti kementerian/lembaga, akademisi, dan pebisnis, mau bersatu, bukan tidak mungkin minat-minat dari generasi muda tersebut bisa meningkat.

Data pertanian yang akurat, katanya, dibutuhkan untuk memperoleh informasi terkait seberapa luas lahan, dan di mana saja lahan pertanian ini berada. Dengan begitu, menurutnya, insentif yang kelak akan diberikan kepada para petani ini bisa tepat sasaran.

Bacaan Lainnya

Capres nomor urut 1 Anies Baswedan mengungkapkan anak muda Indonesia cenderung tertarik untuk terjun di hilir ketimbang di hulu seperti membuka kafe atau restoran karena sektor pertanian dianggap sama sekali tidak menjanjikan.

“Artinya apa? Di situ prospek usahanya baik, tapi di hulu karena prospek usahanya tidak baik, maka tidak banyak anak yang mau ke situ. Ini adalah reasonial behavior, selama di situ tidak menguntungkan, tidak memberikan kesempatan tumbuh, tidak ada anak muda yang akan mau masuk ke sektor ini,” ungkap Anies.

Permasalahan ini, kata Anies, diperberat dengan tidak tersedianya pupuk dan benih yang berkualitas dan murah bagi para petani. Apabila terpilih jadi presiden, ia pun akan mendorong penerapan cooperative farming — suatu bentuk kerja sama kelompok tani yang berorientasi agribisnis komersial melalui perwujudan konsolidasi pengelolaan lahan.

Selain itu, yang tidak kalah pentingnya adalah memperbaiki rantai pasok yang seringkali tidak efisien. Praktik ini, katanya, sudah ia lakukan ketika menjadi gubernur DKI Jakarta, di mana perusahaan milik Pemprov DKI Jakarta bekerja sama dengan sentra produksi pangan di daerah, agar para petani memiliki kepastian terkait penyerapan produksi mereka.

“Dalam jangka panjang, urbanisasi is unstoppable. Kita tidak bisa memaksa orang tinggal di desa lagi. Diperkirakan di tahun 2045, 73 persen penduduk Indonesia ada di perkotaan. Sehingga kita harus mulai memikirkan secara serius tentang tata niaga ini ketika jumlah orang yang berada di pedesaan ini jumlahnya akan sedikit. Ini fakta yang akan kita temui karenanya kenapa modernisasi diperlukan, cooperative farming diperlukan, perbaikan tata niaga diperlukan sehingga desa tetap menjadi supplier dan tidak kalah penting karena kita berhadapan dengan climate crisis,” tegasnya.

Sementara itu, capres nomor urut 2 Prabowo Subianto berjanji akan membuat para petani lebih makmur dari sebelumnya. Caranya, kata Prabowo, dengan memenuhi kebutuhan dasar para petani dan keluarga mereka yang selama ini tidak difasilitasi oleh negara.

Menurutnya ketika petani sejahtera, akan makin banyak generasi penerus bangsa yang mau terjun di sektor ini. Ia mencontohkan Jerman, di mana para petani yang berasal dari kalangan anak muda bisa hidup sangat layak.

Total Views: 852

Pos terkait