JAKARTA – Banyak anak muda di Indonesia enggan terjun di bidang pertanian. Sejumlah pakar berpendapat, bila terus dibiarkan, keadaan ini akan berdampak serius terhadap ketahanan pangan nasional. Ketiga capres mengungkap jurus mereka untuk menarik minat generasi muda agar mau berkecimpung di sektor pertanian.
Makin turunnya minat anak muda tanah air untuk menjadi petani mencuat dalam Dialog Capres bersama Kadin: Menuju Indonesia Emas 2045 di Jakarta pada Kamis (11/1/2024) dan Jumat (12/1/2024).
Para pengusaha ini melontarkan pertanyaan yang sama kepada tiga calon presiden (capres) ini mengenai bagaimana strategi untuk meningkatkan produksi pangan dan mewujudkan kemandirian pangan, serta bagaimana strategi untuk meningkatkan pendapatan petani melalui modernisasi pertanian dan mewujudkan kemandirian industri pertanian.
Capres nomor urut 3 Ganjar Pranowo mendapati permasalahan ini nyata terjadi di lapangan. Para petani yang rata-rata sudah senior, katanya, bahkan tidak mau anak-anaknya untuk meneruskan jejak mereka menjadi petani.
Ketika ia menemui kalangan anak muda dan bertanya apakah mereka berminat menjadi petani, jawaban yang didapat Ganjar pun beragam. Ada sebagian kecil anak muda yang memiliki ideologis mau untuk nyemplung di sektor pertanian asalkan diberikan insentif. Menurutnya, jawaban dari permasalahan ini adalah modernisasi dan insentif.
“Anak muda saya tanya kenapa Anda tidak mau ke sawah, kenapa tidak mau beternak? Jawabnya, bau dan kotor dan tidak menjanjikan. Tapi ketika saya menemukan anak muda yang ideologis itu (jawabnya) “Pak, kasih kami pelatihan dan teknologi, mudahkan bibit dan lain-lain’,” jelas Ganjar.





