Pengamat: Pemerintah Netanyahu Ingin Negara Israel Tanpa Palestina
Secara terpisah, peneliti Timur Tengah di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Nostalgiawan Wahyudhi mengatakan tidak terkejut dengan pernyataan kontroversial Ben Gvir dan Smotrich baru-baru ini karena pemerintahan Netanyahu memang pernah memperlihatkan peta Israel tanpa Palestina.
Nostalgiawan mengatakan ini sesuai dengan rencana besar Israel sebelum perang bahwa Gaza sehabis perang tidak sama dengan Gaza sebelumnya.
“Sekarang sebetulnya yang tersisa dari rencana Israel adalah tinggal mengatasi potensi serangan dari Hamas dan membentuk pemerintahan politik yang ada di Gaza. Dua hal itu sebetulnya yang belum terjadi. Sedangkan penguasaan dan pengusiran itu sudah terjadi sekarang,” ujarnya.
Menurutnya tak heran jika Israel sangat getol mengkampanyekan Hamas sebagai organisasi teroris dan berusaha mendapatkan dukungan internasional untuk menjustifikasi serangkaian serangan darat dan udara di Jalur Gaza, yang disebut sebagai “pembelaan diri” terhadap serangan Hamas sebelumnya.
Nostalgiawan menilai kemungkinan warga Palestina terusir dari Gaza sangat besar karena Israel sudah menantikan hal ini sejak lama, dan sudah membuat berbagai rencana untuk mewujudkannya. Sementara badan-badan dunia, seperti Organisasi Kerja Sama Islam OKI dan Perserikatan Bangsa-Bangsa PBB, tidak berdaya.
Selama Amerika masih memveto resolusi untuk menekan Israel di Dewan Keamanan PBB, lanjutnya, Israel akan kebal dari sanksi internasional. Demikian pula dengan Organisasi Kerjasama Islam (OKI) tidak memiliki kekuatan untuk mencegah apa yang diamui oleh Israel. Apalagi sudah ada normalisasi politik dengan Israel di sebagian negara anggota OKI.
Menurutnya, normalisasi politik merupakan sebuah prestasi besar Israel. Negara-negara Timur Tengah seharusnya sejak awal menyadari bahwa normalisasi politik dengan Israel tidak bisa menjanjikan situasi perdamaian yang baru, namun justru membuat Israel leluasa memerangi rakyat Palestina.
Situs berita Zaman Israel Jumat lalu (5/1/2024) melaporkan para pejabat Israel tengah dalam pembicaraan dengan Rwanda dan Chad, untuk menerima pengungsi Palestina dari Jalur Gaza tinggal di sana. Tidak seperti negara-negara lain, seorang pejabat senior Israel mengatakan kedua negara di benua Afrika itu prinsipnya setuju untuk menerima pengungsi sukarela dari Palestina.






