RS Indonesia di Gaza Jadi Markas Tentara Zionis, MER-C akan Surati WHO

Orang-orang berjalan menuju Rumah Sakit Indonesia di pinggir kamp pengungsi Jabalia di Jalur Gaza utara, setelah pasukan Israel dilaporkan menggerebek fasilitas medis tersebut, 24 November 2023. (Mohammad AHMAD/AFP)
Orang-orang berjalan menuju Rumah Sakit Indonesia di pinggir kamp pengungsi Jabalia di Jalur Gaza utara, setelah pasukan Israel dilaporkan menggerebek fasilitas medis tersebut, 24 November 2023. (Mohammad AHMAD/AFP)

MER-C akan Segera Surati WHO

Lebih jauh Sarbini mengatakan dalam waktu dekat pihaknya akan menyurati Badan Kesehatan Dunia WHO agar menekan Israel untuk mengeluarkan pasukannya dari Rumah Sakit Indonesia. Juga agar mengembalikan fasilitas itu ke fungsi semula, yaitu sebagai sarana untuk menolong warga Palestina di Gaza yang membutuhkan bantuan medis. MER-C juga mendesak agar Israel mengizinkan kembalinya tenaga-tenaga medis untuk bekerja di rumah sakit itu.

Bacaan Lainnya

“Makanya kita minta WHO menginvestigasi, artinya janganlah seperti itu tempat ini (rumah sakit) di posisi netra, tidak boleh diapa-apa in,” ungkap Sarbini, seraya mendesak badan dunia itu untuk mengirim tim independent guna menyelidiki potensi kejahatan terhadap kemanusiaan yang dilakukan Israel di berbagai fasilitas kesehatan, termasuk Rumah Sakit Indonesia.

Saat ini Rumah Sakit Indonesia dalam keadaan kosong. Dua relawan MER-C yaitu Fikri Rofiul Haq dan Reza Aldilla Kurniawan kini melakukan aktivitas kemanusiaan di bagian selatan Gaza.

Kemlu: Menlu Sudah Menemui WHO untuk Suarakan Memburuknya Sistem Kesehatan di Gaza

Ditemui secara terpisah, juru bicara Kementerian Luar Negeri Lalu Muhammad Iqbal mengatakan sejak awal pemerintah Indonesia sudah menyampaikan keprihatinan mengenai kondisi sistem kesehatan di Gaza yang terus memburuk. Dari sekitar 35 rumah sakit di selatan Jalur Gaza, hanya 12 yang masih beroperasi. Masih terus berlanjutnya serangan Israel ke wilayah itu membuat jumlah korban tewas dan luka-luka terus berjatuhan. Walhasil rumah sakit dan fasilitas medis yang tersisa kewalahan menangani para korban.

Menurut Iqbal, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi sudah menemui WHO (Organisasi Kesehatan Dunia) untuk menyuarakan masalah itu.

“Jadi Ibu Menlu pergi ke Jenewa itu salah satunya untuk menyuarakan isu ini bahwa sistem kesehatan yang ada di Gaza sudah gagal sekarang untuk menangani situasi kemanusiaan yang ada di Gaza. Salah satunya tercermin dari 35 rumah sakit, hanya 12 yang bisa aktif. Itu pun semua di Gaza selatan,” ujarnya.

Ditambahkannya, rumah sakit-rumah sakit di utara Gaza sudah tidak ada yang beroperasi lagi. Selain rumah sakit, 71 persen fasilitas kesehatan di Gaza sudah tidak berfungsi lagi, termasuk klinik, ambulans, dan sebagainya.

Badan PBB Urusan Pengungsi Palestina (UNRWA), hari Rabu (20/12) mengatakan serangan Israel di Gaza menyebabkan lebih dari 90 persen warga di wilayah tersebut mengungsi.

Total Views: 403

Pos terkait