“Ya mungkin di awal-awal masa kampanye Prabowo-Gibran agak santai karena masalah soal cuti karena masih menjabat menhan dan wali kota Solo. Bisa jadi itu strategi kampanyenya, bahwa di awal agak rileks, agak santai. Nanti menjelang pertengahan atau akhir baru kencang,” katanya.
“Dan bisa jadi Prabowo-Gibran tidak seagresif paslon (pasangan calon -red) lain karena memang sudah melihat pemetaan bahwa kantong-kantong suara di banyak wilayah, Prabowo-Gibran unggul. Sudah tahu peta, bisa jadi mereka sudah tahu posisi dan bisa jadi bahwa dia percaya diri untuk unggul untuk menang,” lanjutnya.
Sementara itu, Ketua Tim Pemenangan Nasional (TPN) Ganjar-Mahfud, Arsjad Rasjid, meyakini bahwa Jokowi tidak seperti yang ditudingkan banyak pihak. Ia mengerti bahwa kunjungan kerja tersebut adalah bagian dari jadwal seorang presiden.
“Semuanya punya hal yang berbeda bahwa Pak Jokowi kan kunjungan kerja, sedangkan kalau dari sisi kami sendiri adalah kampanye. Jadi ya sudah kita fokusnya adalah ke kampanyenya saja. Malahan bagus, karena kalau gimana pun kami percaya bahwa yang namanya calon yang bisa menjadi penerus dari Pak Jokowi adalah Mas Ganjar. Jadi dengan demikian yang itu yang kami percayai,” ungkap Arsjad.
Arsjad mengaku tidak ambil pusing dan akan senantiasa fokus melakukan kampanye secara maksimal untuk merebut hati rakyat.
“Intinya kita fokus dalam kampanye yang ada, Mas Ganjar akan berjalan, Pak Mahfud akan berjalan, lalu ditambah kami minta Mas Sandiaga Uno juga jalan, kami juga minta Yenny jalan. Belum lagi kami-kami semua dari TPN untuk bergerak. Jadi intinya adalah kita harus ke bawah, jalan, balik lagi ke grass root, harus mengetuk hati-hati rakyat,” pungkasnya. [voa]
Jaringan: VOA
Editor: Anton Marulam





