Bagaimana Kecerdasan Buatan akan Mengubah Dunia Pendidikan?

Logo ChatGPT dan kata-kata AI Artificial Intelligence terlihat dalam sebuah ilustrasi.(Foto: REUTERS/Dado Ruvic)

Alat kecerdasan buatan generatif, seperti ChatGPT, memicu diskusi mengenai transformasi bersejarah di berbagai bidang, termasuk pendidikan dan penelitian akademis.

Bagaimana kecerdasan buatan (AI) generatif, seperti ChatGPT, akan mengubah pendidikan dan penelitian akademis?

Bacaan Lainnya

Guru-guru di seluruh dunia membahas tantangan dan manfaat yang mungkin diperoleh dari penggunaan AI dalam pekerjaan mereka.

Beberapa pihak melihat sejumlah manfaat dari kemampuan teknologi itu untuk memproses informasi dan data, yang dapat memberikan landasan analisis kritis yang lebih mendalam bagi manusia.

Sedangkan sisanya khawatir para pelajar akan mengandalkan AI untuk mengerjakan tugas dan menyontek.

Saat ditanya apakah pelajar sebaiknya diizinkan menggunakan AI generatif sebelum ada kebijakan lebih lanjut, dosen KTH Royal Institute of Technology Prosun Bhattacharya mengatakan: “Terus terang tidak.”

Di Universitas Lund Swedia yang terkemuka, pengajar memutuskan siswa mana yang boleh menggunakan AI untuk membantu mereka mengerjakan tugas.

“Kami tidak mau ada larangan. Solusinya, kami mempunyai pendekatan yang bersifat permisif, yaitu Anda boleh menggunakannya (AI, red.) selama Anda yakin bahwa penilaiannya valid. Maksudnya, ia menguji hasil yang memang ingin kami ujikan, dan bahwa hasilnya aman, yang berarti kami tahu siswa itu mengerjakan tugas yang kami nilai. Itu tidak selalu mudah, tapi akan membaik seiring waktu,” jelas Rachel Forsyth, manajer proyek di Kantor Pengembangan Strategis kampus itu.

Hal serupa juga diberlakukan Universitas Hong Kong. Mereka mengizinkan penggunaan ChatGPT dalam batasan yang ketat.

Diluncurkan perusahaan OpenAI – yang didukung Microsoft – pada November 2022, ChatGPT menjadi aplikasi dengan pertumbuhan tercepat di dunia hingga saat ini.

Alat AI generatif seperti ChatGPT memanfaatkan pola bahasa dan data untuk menghasilkan apa pun, mulai dari esai, video hingga perhitungan matematis yang di permukaan menyerupai hasil buatan manusia.

Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan PBB – UNESCO- belum lama ini meluncurkan pandual global pertama tentang GenAI dalam dunia pendidikan.

Panduan itu menguraikan langkah-langkah yang harus diambil dalam bidang-bidang seperti perlindungan data dan revisi undang-undang hak cipta.

Panduan itu juga mendesak negara-negara untuk memastikan para guru memperoleh keterampilan AI yang diperlukan.

Professor Prosun Bhattacharya di KTH Royal Institute of Technology, Stockholm, mengatakan, mahasiswa tidak sepatutnya diizinkan menggunakan teknologi baru itu sebelum adanya kebijakan yang mengaturnya.

Total Views: 389

Pos terkait