Bagaimana Kecerdasan Buatan akan Mengubah Dunia Pendidikan?

Logo ChatGPT dan kata-kata AI Artificial Intelligence terlihat dalam sebuah ilustrasi.(Foto: REUTERS/Dado Ruvic)

“Karena menurut saya, ini akan sangat berdampak pada kemampuan belajar para siswa, karena saat ini ilmu pengetahuan diperoleh dengan membaca buku, membaca artikel riset atau karya lainnya, yang tidak bisa digantikan informasi yang dihasilkan secara artifisial,” katanya.

Apakah pelajar dapat bergantung pada AI untuk mengerjakan tugas mereka dan mencontek?

Bacaan Lainnya

Di seluruh dunia, selama puluhan tahun, perangkat lunak Turnitin menjadi salah satu cara utama untuk memeriksa ada-tidaknya plagiarisme.

April lalu, perusahaan software itu meluncurkan sebuah alat kecerdasan buatan untuk mendeteksi konten buatan AI.

Turnitin menyediakan alat itu secara gratis kepada lebih dari 10.000 institusi pendidikan di seluruh dunia, meski ia berencana untuk membuatnya berbayar mulai awal 2024.

Sejauh ini, alat pendeteksi AI milik Turnitin itu telah menemukan bahwa hanya 3% pelajar yang menggunakan AI dalam lebih dari 80% tugas mereka.

Beberapa pelajar mengaku jalan yang harus ditempuh masih panjang untuk membuat teknologi AI dapat digunakan selayaknya.

Panduan UNESCO belum lama ini juga memperingatkan risiko perpecahan masyarakat yang semakin dalam akibat alat AI generatif, karena kesuksesan seseorang dalam pendidikan dan perekonomian semakin bergantung pada akses listrik, komputer dan internet, yang tidak dimiliki masyarakat miskin.

“Teknologi adalah sebuah alat. Ia sendiri netral, tidak memberikan dampak positif. Tapi cara kita menggunakan teknologilah yang menentukannya. Lalu kita membutuhkan sebuah ekosistem, yang dapat benar-benar kita renungkan kembali, yang dapat benar-benar kita bentuk lagi demi masa depan pendidikan,” papar Asisten Direktur Jenderal UNESCO bidang pendidikan, Stefania Giannini. [voa]

Jaringan: VOA
Editor: Anton Marulam

Pos terkait