Kepala Badan Lingkungan Hidup Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan bahwa bahwa umat manusia tidak bisa begitu saja mendaur ulang plastik untuk keluar dari masalah tersebut. Untuk itu, ia menyerukan perlu dipikirkan ulang penggunaan plastik seiring dengan meningkatnya produksi plastik di seluruh dunia dan menciptakan lebih banyak polusi.
“Ada banyak jalan menuju solusi. Tapi saya pikir semua orang menyadari bahwa status quo bukanlah suatu pilihan,” kata Inger Andersen, Direktur Program Lingkungan PBB, dalam wawancara Kamis (21/9/2023) dengan AFP di sela-sela pertemuan Majelis Umum di New York.
Andersen menyampaikan hal tersebut dua minggu setelah publikasi rancangan pertama perjanjian internasional masa depan mengenai polusi plastik, yang diperkirakan akan rampung pada akhir 2024.
Hal ini mencerminkan berbagai ambisi dari 175 negara yang terlibat, terutama kesenjangan antara mereka yang mendukung pengurangan produksi polimer mentah dan mereka yang bersikeras untuk menggunakannya kembali dan mendaur ulang.
Pertama, Andersen mengatakan tujuannya adalah untuk menghilangkan sebanyak mungkin plastik sekali pakai, “menghilangkan hal-hal yang sejujurnya tidak diperlukan: benda-benda yang dibungkus dengan plastik yang sama sekali tidak ada gunanya, bahkan mungkin dibungkus oleh alam sendiri,” seperti sebuah jeruk atau pisang.
Lalu, “ada yang memikirkan produk itu sendiri. Apakah produknya harus cair? Bisakah kita memikirkan kembali produknya… apakah bisa berbentuk bubuk, apakah bisa dikompresi, apakah bisa dipekatkan?” katanya. Ketika memasuki supermarket, dia langsung pergi ke lorong sabun untuk melihat apakah versi padat tersedia.
“Kita juga harus mengurangi keseluruhan pasokan polimer mentah baru,” katanya, sambil mencatat bahwa ini adalah salah satu opsi dalam rancangan teks perjanjian tersebut.





