Presiden Tiongkok Xi Jinping akan membuka turnamen Asian Games dalam sebuah upacara gemerlap di Hangzhou pada Sabtu (23/9/2023). Kegiatan olahraga Asia tersebut akan diikuti lebih banyak atlet daripada kompetisi multi cabang olahraga dunia, Olimpiade.
Setelah tertunda selama satu tahun karena kebijakan nol-COVID oleh Pemerintah Tiongkok yang ketat, lebih dari 12.000 peserta dari 45 negara di Asia dan Timur Tengah ikut berkompetisi dalam 40 cabang olahraga di kota di bagian timur Tiongkok.
Xi dijadwalkan akan membuka acara secara resmi di salah satu wilayah paling makmur negara itu, di hadapan tamu undangan termasuk Presiden Suriah Bashar al-Assad.
Assad akan bergabung dengan para pemimpin dari negara-negara sekutunya Kamboja, Kuwait, dan Nepal, di Stadion Olimpiade Hangzhou, kata media pemerintah. Kehadiran Assad dalam upacara pembukaan Asian Games adalah lawatannya ke Tiongkok yang pertama kali sejak perang meletus di Suriah pada 2011.
Yang menarik dari turnamen tersebut adalah upaya Tiongkok untuk menjadikan ajang tersebut sebagai pesta olahraga pertama yang tidak menggunakan uang tunai untuk bertransaksi karena Hangzhou adalah kota tanpa uang tunai.
Penyelenggara juga menggembar-gemborkan kredibilitas lingkungan mereka, dengan menerapkan kebijakan rendah karbon yang akan menjadikan tempat-tempat tersebut ditenagai oleh listrik ‘ramah lingkungan.’
Pesta olahraga itu “kemungkinan akan menjadi upaya kekuatan lunak Tiongkok pasca-pandemi, dengan stadion yang penuh sesak dengan kehadiran pemimpin politik dan bisnis di Asia,” kata Jung-Woo Lee, pakar kebijakan olahraga di Universitas Edinburgh, kepada AFP.
Namun Olimpiade tersebut telah diguncang oleh perselisihan antara New Delhi dan Tiongkok. Akibatnya rencana kehadiran Menteri Olahraga India dalam ajang itu dibatalkan pada Jumat (22/9/2022).
Hal itu terjadi setelah tiga atlet seni bela diri perempuan dari negara bagian Arunachal Pradesh di India mengklaim bahwa mereka tidak diberi akreditasi. Tiongkok membantah hal itu.
Negara bagian Arunachal Pradesh di timur laut hampir seluruhnya diklaim oleh Beijing, yang menyebutnya “Tibet Selatan.”
Status Tiongkok sebagai tujuan olahraga mengalami pukulan berat selama tiga tahun pertama pandemi, ketika pemerintah Tiongkok menutup dan menerapkan aturan perjalanan yang ketat sehingga hampir semua acara internasional di negara tersebut dibatalkan.
Tuan rumah menjadi delegasi favorit yang digadang-gadang akan dapat menduduki puncak perolehan medali, menambah jumlah delegasi yang berjumlah hampir 900 orang. Sedangkan Jepang dan Korea Selatan berjuang untuk posisi kedua.
Korea Utara mengirim tim beranggotakan hampir 200 orang, mengakhiri hampir tiga tahun isolasi dari arena olahraga global.
Mereka akan memperebutkan medali di 40 cabang olahraga mulai dari atletik, renang dan sepak bola hingga bridge, serta sejumlah cabang olahraga khas daerah termasuk balap perahu naga, seni bela diri Tiongkok, wushu dan kabaddi, olahraga kontak yang populer di anak benua India.
Olimpiade ini akan diadakan di 54 lokasi – 14 baru dibangun – sebagian besar di Hangzhou. Selain itu penyelenggaraannya juga akan tersebar hingga ke beberapa kota, hingga Wenzhou, 300 kilometer selatan.
Hangzhou, kota berpenduduk 12 juta orang yang dapat dicapai dalam satu jam dari Shanghai dengan kereta cepat, adalah rumah tidak resmi bagi industri teknologi Tiongkok. Perhelatan Asian Games akan menampilkan bus tanpa pengemudi, robot anjing, dan teknologi pengenalan wajah. [voa]
Jaringan: VOA
Editor: Anton Marulam





