“Ya, sangat, sangat tidak nyaman dalam cuaca yang sangat panas di Darwin dan tempat-tempat lain di daerah Tropis di seluruh dunia, tetapi kita tidak perlu hidup pada suhu 21 derajat Celcius. Dan yang pasti, pengalaman saya tentang orang Aborigin adalah mereka sangat tidak menyukai ruangan ber-AC. Mereka merasa sangat tidak nyaman di dalamnya,” imbuhnya.
Quilty mengatakan bahwa orang Aborigin telah menunjukkan “ketahanan luar biasa terhadap cuaca ekstrem” selama ribuan tahun.
Para penyusun studi Universitas Nasional Australia itu percaya bahwa “komunitas iklim panas perlu mulai mempertimbangkan cara sosial-budaya untuk beradaptasi dengan cuaca yang lebih panas.”
Penduduk asli Australia selalu menghindari terik matahari sore dan mengurangi aktivitas fisik pada waktu-waktu yang lebih hangat. Studi tersebut merekomendasikan bahwa perumahan di daerah beriklim panas juga hendaknya dirancang untuk memastikan pendinginan pasif guna mengurangi biaya energi.
Penelitian di Australia itu juga menegaskan bahwa tidur siang selama waktu terhangat dalam satu hari dapat membantu tubuh untuk menyesuaikan diri dengan panas.
Studi ini telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Lancet Planetary Health. [voa]
Jaringan: VOA
Editor: Anton Marulam





