Sebuah studi baru yang dipimpin oleh Universitas Nasional Australia (Australian National University atau ANU) memperingatkan dampak buruk terlalu banyak menggunakan pendingin ruangan atau AC bagi kesehatan.
SYDNEY, AUSTRALIA – Darwin, ibu kota Northern Territory Australia, bisa sangat panas dan lembab. Banyak di antara 150.000 penduduknya berlindung dari unsur tropis di rumah, kantor, dan mobil yang dilengkapi denan AC.
Tetapi penelitian dari Universitas Nasional Australia, ANU, menunjukkan bahwa AC, yang sering disetel pada suhu 21C, membuat orang lebih rentan terhadap kematian akibat panas.
Gelombang panas adalah bahaya alam paling mematikan di Australia, dan membunuh lebih banyak orang daripada kematian akibat gabungan kebakaran hutan, banjir, dan badai.
ANU menegaskan bahwa, “Perubahan iklim meningkatkan kematian terkait panas, khususnya di bagian-bagian dunia yang lebih panas.”
Simon Quilty, penulis utama studi tersebut, adalah guru besar di Pusat Epidemiologi dan Kesehatan Penduduk Universitas Nasional Australia. Dia mengatakan kepada VOA bahwa menghindari panas dan kelembapan dapat mencegah orang beradaptasi dengan iklim.
“Terpaan secara teratur pada iklim di mana kita tinggal sebenarnya menyesuaikan tubuh kita. Kita tahu bahwa aklimatisasi membutuhkan waktu kira-kira 14 hari untuk terjadi pada tubuh manusia dan itu mengubah cara kita berkeringat, mengubah cara kita bernapas, mengubah ginjal kita, dan bahkan mengubah cara jantung kita memompa darah. Apa yang terjadi sekarang kita dibiasakan hidup pada suhu 21 derajat Celcius dan bagi orang-orang yang tinggal di iklim yang sangat panas seperti Northern Territory, deaklimatisasi sebenarnya mungkin meningkatkan kerentanan terhadap panas,” jelasnya.
Quilty mengatakan penelitian tersebut juga menemukan bahwa masyarakat First Nations (penduduk asli/Aborigin) di Northern Territory tidak terlalu rentan terhadap panas karena mereka sering kali kurang tertarik atau tidak dapat menggunakan AC.





