Moderasi Pilihan yang Menarik
Sosiolog sekalis pengamat politik dari Universitas Widya Mataram, Yogyakarta, Dr Mukhijab, memandang wajar sikap pengurus pusat kedua organisasi keagamaan di Indonesia itu. Namun, khusus untuk NU, sikap politik yang disampaikan Yahya Cholil Staquf sebenarnya merupakan langkah baru.
“Dalam konteks ketua umum PB NU dan pilihan partai politik warga nahdliyin, pernyataan Gus Yahya sangat menarik, dan ini tidak biasa dilakukan oleh pimpinan dari ormas NU,” kata Mukhijab.
“Pimpinan ormas NU sebelumnya, lebih mendorong warga nahdliyin untuk memilih atau menyalurkan aspirasinya ke Partai Kebangkitan Bangsa,” kata dia lagi.
Menjaga jarak dari politik praktis memang dapat dimaknai, memberu kesempatan yang sama untuk setiap partai, merebut simpati warga NU. Di sisi lain, ada tautan sejarah yang kuat antara NU dan PKB. Seolah-olah, PKB adalah sayap politik dari organisasi itu.
Yahya Staquf, kata Mukhijab, mungkin berusaha lebih realistis. Menyerahkan pilihan politik warga NU ke setiap partai politik yang ada, didasari oleh kenyataan bahwa kader-kader NU di parlemen saat ini juga berkiprah di sejumlah partai.
Kemungkinan, sikap politik ini akan memperoleh dua respon dari warga NU, yaitu menurut ke pengurus pusat atau lebih mengikuti sikap kyai-kyai di daerah. Sebagai partai, PKB memiliki ikatan kuat dengan kyai di daerah. Sikap warga NU, kadang lebih dipengaruhi oleh pernyataan kyai di daerah daripada pengurus pusatnya.
“Orientasi pilihan warga nahdliyin masih fifty-fifty. Bisa jadi mereka mengikuti sikap Gus Yahya melakukan moderasi pilihan politik, atau sebaliknya mereka bersikap konvensional dengan mengikuti para kyai di daerah,” ujarnya.
Sementara di Muhammadiyah, menurut Mukhijab, anggotanya cenderung lebih independen terkait pilihan politik. Sebagian dukungan diberikan kepada Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Namun, sejak reformasi bergulir, mayoritas warga Muhammadiyah melabuhkan pilihan ke Partai Amanat Nasional. Salah satu faktornya adalah karena partai ini didirikan oleh mantan ketua PP Muhammadiyah, Amien Rais.
Yang berbeda, saat ini Amien Rais telah mendirikan partai politik baru, yaitu partai Ummat. Mukhijab memperkirakan, situasi di Muhammadiyah akan lebih dinamis terkait perkembangan terakhir.
Namun yang pasti, sikap PB NU dan PP Muhammadiyah akan mendorong partai-partai nasionalis untuk lebih agresif berebut suara di ceruk pemilih ini, meski relatif berbeda situasinya.
“Bagi partai-partai yang selama ini basis massanya bukan nahdliyin, ya ini menjadi angin segar, walaupun belum tentu efektif pengaruhnya. Sementara untuk kalangan Muhamamadiyah, ini relatif biasa karena organisasi ini secara formal, konsisten menjaga jarak dengan parpol,” kata Mukhijab. [voa]
Jaringan: VOA
Editor: Rusdianto






