Presenter Berita Virtual Kecerdasan Buatan Hadir di Tanah Air, Masyarakat Siap?

Penampakan presenter berita virtual tvOne.ai, (kiri ke kanan) Sasya, Nadira, dan Bhoomi.
Penampakan presenter berita virtual tvOne.ai, (kiri ke kanan) Sasya, Nadira, dan Bhoomi.

‘Misinformasi jadi subur’?

Disinformasi adalah masalah yang dikhawatirkan akan menjadi lebih banyak, menurut PhD Candidate di Queensland University of Technology (QUT) Australia, Albertus Prestianta.

Sebagai contoh, beberapa waktu lalu, jagat maya, yang turut mengikuti perkembangan pendakwaan mantan Presiden AS Donald Trump pada awal April, sempat dihebohkan ‘foto-foto’ Trump yang diseret kepolisian.

Bacaan Lainnya

Belakangan, diketahui ‘foto-foto’ itu palsu – gambar hasil AI yang diunggah di lini masa Twitter.

Teknologi ini sangat, sangat bagus dalam membuat ‘berita palsu’,” kata Profesor Universitas Oxford, Michael Wooldridge kepada AP. “Dan salah satu cara menggunakannya, kalau Anda tak bermoral, adalah dengan menjadikan pembuatan ‘berita palsu’ sebagai sebuah industri.”

Albertus lantas mendorong adopsi AI oleh media yang dapat membuat produk jurnalistik lebih efisien, tetapi mewanti-wanti media untuk tak serta merta mengadopsi teknologi baru demi faktor ekonomi saja.

Karena AI, sekali lagi, tidak bisa seperti halnya manusia, memaknai konten atau pesan, baik atau buruk,” papar Albertus kepada VOA.

“AI juga bias,” katanya, mengingat teknologi AI yang disebutnya hanya dipasok data dan informasi tertentu, sesuai keinginan pengembangnya.

Maka pelaku pers, imbuhnya, harus transparan akan sejauh mana penggunaan AI-nya.

“AI ini menjadi bagian dari redaksi untuk membantu bekerja, tapi (redaksi harusnya) tidak menyerahkan seluruhnya kepada AI untuk memproduksi informasi,” simpul pria yang juga dosen jurnalistik di Universitas Multimedia Nusantara itu.

Media harus jadi ‘oasis’

Potensi suburnya disinformasi juga menjadi perhatian tvOne.ai. Apni yakin akan adanya ‘tsunami berita palsu’ dan deep fake di masa mendatang. Untuk mengatasi hal itu, peran edukasi disebut Taufan maupun Apni jadi perhatian dalam penggarapan tvOne.ai. Apni juga menambahkan, arus informasi harus dikontrol media arus utama.

“Karena cuma media arus utama yang punya protokol ketat dalam disiplin verifikasi,” ujar pria yang juga praktisi media itu.

Terkait peran itu, Albertus lalu menekankan pentingnya peran pers untuk memberantas misinformasi dan tetap bisa mengedukasi mana yang berita dan bukan.

“Masyarakat kita punya hak untuk mendapatkan informasi yang benar, dapat diandalkan, dan tepercaya, untuk mengambil keputusannya dia di kemudian hari,” sambungnya, “Media harus jadi oasis. Masa kita malah nambah-nambahin hoaks?”

Ia lalu mengingatkan pesta demokrasi yang kian dekat.

“Besok, tahun politik. Persoalannya, orang kita, masyarakat kita, publik kita, sudah siap atau belum?” [voa]

Jurnalis: Greogorius Giovani Nabila Ganinda
Jaringan: VOA

Total Views: 804

Pos terkait