Warga Palestina yang Mogok Makan di Penjara Israel Meninggal Dunia, Situasi Kembali Memanas

Anak-anak dan remaja Palestina mengibarkan bendera nasional dan memegang poster Khader Adnan, seorang militan Jihad Islam Palestina yang meninggal di penjara Israel setelah mogok makan hampir tiga bulan, di desa Arrabe Tepi Barat, dekat Jenin, Selasa, 2 Mei 2023.
Anak-anak dan remaja Palestina mengibarkan bendera nasional dan memegang poster Khader Adnan, seorang militan Jihad Islam Palestina yang meninggal di penjara Israel setelah mogok makan hampir tiga bulan, di desa Arrabe Tepi Barat, dekat Jenin, Selasa, 2 Mei 2023.

Jihad Islam: Kejahatan terhadap Adnan tak akan berlalu tanpa pembalasan

Seorang pejabat Jihad Islam, Dawood Shahab, mengatakan, “Apa yang terjadi pada Sheikh Khader Adnan adalah benar-benar suatu kejahatan, dan pendudukan Israel memegang tanggungjawab langsung dan penuh. Termasuk dengan segala piranti kotor, pengadilan palsu, jaksa-jaksa militer, badan keamanan dan penjara. Semua merupakan mitra dalam kejahatan ini, yang kelak akan mereka bayar dengan harga sangat mahal. Kejahatan ini tidak akan berlalu tanpa pembalasan.”

Bacaan Lainnya

PHRI: Israel bertanggung jawab atas kematian Adnan

Direktur Advokasi Internasional “Physicians for Human Rights Israel” PHRI Dana Moss mengatakan pihak berwenang Israel bertanggungjawab atas kematian Khader Adnan.

“Adnan meninggal hari ini setelah 86 hari mogok makan. Mogok makan adalah salah satu dari sedikit alat tanpa kekerasan yang tersisa bagi warga Palestina ketika mereka berjuang melawan sistem hukum Israel yang tidak adil, yang diatur dalam konteks pendudukan jangka panjang, oleh rezim apartheid. Kami di PHRI telah sejak lama memperingatkan kematian seorang warga Palestina karena mogok makan. Kami menilai tanggung jawab atas kematiannya ada di pihak Israel. Baik badan urusan penjara Israel yang tidak mengirimnya ke rumah sakit, malah meninggalkannya di fasilitas medis penjara yang tidak memiliki perlengkapan untuk mengatasi dampak mogok makan jangka panjang; maupun Menteri Kesehatan Israel yang tidak memaksakan perawatannya di rumah sakit umum, serta tentunya rumah sakit Israel yang tidak menerima untuk merawatnya, yang jelas melanggar aturan etika dan profesional.”

Tahanan Palestina dinilai sebagai pahlawan nasional dan setiap ancaman yang dirasakan terhadap mereka selama dalam tahanan Israel dapat memicu ketegangan dan aksi kekerasan.

Sebaliknya Israel melihat Adnan dan tahanan Palestina lainnya sebagai ancaman keamanan yang dituduh terlibat dalam serangan berdarah yang menelan korban jiwa.

12 Kali Ditahan Israel, Enam Kali Mogok Makan Panjang

Selama beberapa tahun ini Adnan telah berulangkali ditangkap Israel, dan setelah memulai aksi mogok makan sepuluh tahun lalu, ia menjadi simbol keteguhan sikap menghadapi pendudukan Israel. Ia pernah mogok makan selama 66 hari pada tahun 2012, 56 hari pada tahun 2015 dan 58 hari pada tahun 2018. Israel sempat membebaskan Adnan sejenak pada tahun 2015.

Adnan mulai mogok makan setelah ditangkap kembali pada tanggal 5 Februari lalu.

Menurut Palestinian Prisoners Club, yang mewakili narapidana saat ini dan juga mantan narapidana, Adnan telah ditangkap 12 kali dan secara keseluruhan ditahan selama delapan tahun di berbagai penjara Israel. Sebagian besar lewat apa disebut sebagai “tahanan administratif,” di mana tersangka ditahan tanpa dakwaan atau diajukan ke pengadilan.

Kematiannya terjadi saat Israel dipimpin oleh pemerintah paling kanan dalam sejarah, dan penjara serta tahanan Palestina diawasi langsung oleh Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir, seorang ultranasionalis yang telah memperketat pembatasan terhadap tahanan Palestina. [voa]

Jaringan: VOA
Editor: Rusdianto

Total Views: 344

Pos terkait