Kepala Staf Angkatan Bersenjata Filipina Jenderal Andres Centino mengatakan, “Seiring dengan tumbuhnya kekuatan dan jangkauan kolaborasi serta kemitraan, kami tidak hanya memperkuat dan meningkatkan interoperabilitas angkatan bersenjata kami untuk pertahanan bersama, bantuan kemanusiaan dan tanggap bencana, tetapi juga berkontribusi pada perdamaian dan stabilitas wilayah Indo-Pasifik secara definitif.”
Selama upacara pembukaan latihan di markas militer Filipina, lebih dari 50 aktivis berunjuk rasa di luar markas tersebut untuk menentang latihan gabungan kedua negara.
Renato Reyes, Sekretaris Jenderal Organisasi Bayan yang ikut berunjuk rasa, mengatakan, “Latihan perang ini jelas-jelas bertujuan untuk menunjukkan kekuatan AS di Asia. Latihan ini bukan bertujuan untuk membela Filipina, bukan untuk membantu modernisasi Filipina, tapi untuk menampilkan kekuatan AS dan ini adalah persiapan perang. Yang terjadi setelah latihan perang ini adalah AS mempertimbangkan konflik ini akan meningkat, dan sekarang dengan lebih banyaknya situs EDCA (Perjanjian Kerjasama Pertahanan yang Ditingkatkan) maupun pangkalan operasi, Filipina pada akhirnya akan terseret ke dalam suatu konflik yang belum tentu demi kepentingan kita, seperti yang telah saya katakan.”
Latihan itu juga menuai kritik dari kementerian luar negeri China, yang mengatakan pada pekan lalu bahwa penguatan penempatan militer AS di Filipina hanya akan menyebabkan lebih banyak ketegangan di kawasan itu, setelah Manila mengizinkan Washington mengakses lebih banyak pangkalannya.
Latihan perang yang akan dilakukan di beberapa wilayah Filipina itu juga akan mencakup pelatihan di bidang operasi amfibi dan penerbangan, pertahanan siber, perang kota, kontra-terorisme, serta bantuan kemanusiaan dan bencana, kata Angkatan Bersenjata Filipina. [voa]
Jaringan: VOA





