Dikatakan Salman, perbedaan kebudayaan yang dimiliki kota Tanjungpinang ini patut kita syukuri. Karena, selain melestarikan budaya, juga dapat menjadi daya tarik bagi wisatawan yang ingin menyaksikan keragaman budaya, adat, dan kearifan lokal yang ada di ibukota provinsi Kepri ini.

Sementara itu Ketua Panitia, Ali Soenarmo, yang akrab disapa Asun menjelaskan sembahyang keselamatan ini sudah menjadi tradisi yang dilakukan Vihara Yayasan Thirata Mutiara Sasana.
Perayaan yang ke-22 ini, dilaksanakan selama dua hari, mulai Rabu (15/2) malam diisi dengan acara hiburan dan puncaknya pada Kamis (16/2).
Dalam acara itu, pemerintah kota Tanjungpinang melalui disbudpar memberikan cinderamata kepada wisatawan Singapura.
Turut hadir, para tokoh Tionghoa, ketua RT dan RW, serta jajaran Disbudpar Kota Tanjungpinang. (Anton/rdi)
Editor: Rusdianto





