Perlu Peran Anak Muda
Pengkampanye dari Yayasan Plan Internasional Indonesia, Aditya Septiansyah, melihat isu perkawinan anak juga membutuhkan peran anak muda untuk menyelesaikannya.
“Sudah saatnya kita melihat anak, tidak hanya sebagai korban dari permasalahan perkawinan anak ini, tapi justru mereka bisa menjadi penggerak-penggerak yang mempengaruhi teman sebaya, untuk sama-sama bisa melakukan pencegahan perkawinan anak,” paparnya.
Plan Internasional Indonesia saat ini memfokuskan kampanye mereka di dua daerah, yaitu Sukabumi, Jawa Barat dan Lombok Barat di Nusa Tenggara Barat. Tahun lalu, mereka menerbitkan buku saku berjudul “Mari Kita Cegah Perkawinan Anak”. Buku ini, kata Aditya, telah disosialisasikan ke sekolah-sekolah di Sukabumi dan Lombok Barat. Kerja sama dengan pemerintah daerah juga dijalin untuk memastikan distribusi buku saku untuk remaja itu sampai ke tujuan.
“Harapannya, banyak agen-agen perubahan, kaum muda yang punya pengetahuan cukup untuk mengiedukasi peers-nya terkait perkawinan anak, bisa muncul di daerah-daerah,” ujar Aditya.
Di Lombok Barat, yayasan ini bahkan memanfaatkan adat untuk menekan angka perkawinan anak. Dalam pemahaman umum, merarik atau tradisi melarikan anak gadis di Lombok bisa menjadi alasan untuk menikah di usia dini. Plan Internasional Indonesia justru memanfaatkan adat ini, untuk menegaskan bahwa aturan adat mensyaratkan kondisi tertentu yang tidak mudah untuk terjadinya perkawinan anak.





