Jelang Pembicaraan Biden-Xi, AS Ingatkan Risiko “Kecelakaan” di Laut Tiongkok Selatan

Presiden AS Joe Biden melakukan pembicaraan video dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping dari Gedung Putih, Washington DC, 15 November 2021 lalu (foto: dok VOA).
Presiden AS Joe Biden melakukan pembicaraan video dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping dari Gedung Putih, Washington DC, 15 November 2021 lalu (foto: dok VOA).

Washington, DC – Pemerintah Amerika Serikat menyatakan “hanya masalah waktu” sebelum terjadi kecelakaan besar di kawasan Indo-Pasifik ketika militer Tiongkok melanjutkan apa yang disebutnya sebagai perilaku provokatif, dan bahwa Amerika sedang mencari jalur komunikasi terbuka dengan Tiongkok untuk mencegah terjadinya salah perhitungan.

Peringatan keras itu disampaikan Rabu (27/7/2022) menjelang pembicaraan Presiden Amerika Joe Biden dan Presiden Tiongkok Xi Jinping melalui telpon, yang dijadwalkan berlangsung hari Kamis (28/7).

Bacaan Lainnya

Pejabat-pejabat senior Amerika dan anggota Kongres Selasa lalu (26/7/2022) merinci penilaian mereka bahwa Tiongkok memang merupakan tantangan terbesar bagi keamanan nasional Amerika dan stabilitas di kawasan.

Wakil Asisten Menteri Luar Negeri untuk Urusan Asia Timur dan Pasifik Jung Pak mengatakan, “Klaim maritim RRT (Tiongkok-red) yang ekspansif dan melanggar hukum di Laut Tiongkok Selatan, serta tindakan provokatifnya untuk menerapka klaiim itu, telah berkontribusi pada ketidakstabilan di kawasan.

Dalam diskusi di Center for Strategic and International Studies (CSIS) Washington DC, Pak mengutip tiga insiden dalam beberapa bulan terakhir ini, ketika kapal kapal Tiongkok menantang penelitian kelautan dan kegiatan eksplorasi energi di zona ekonomi eksklusif Filipina di Laut Tiongkok Selatan.

Pejabat tinggi Pentagon untuk urusan Asia juga menyampaikan pandangan serupa. Asisten Menteri Pertahanan untuk Urusan Keamanan Indo-Pasifik Ely Ratner mengatakan, “Dalam pandangan saya, perilaku agresif dan tidak bertanggungjawab ini merupakan salah satu ancaman paling signifikan terhaap perdamaian dan stabilitas di kawasan saat ini, termasuk di Laut Tiongkok Selatan.”

Lebih jauh Ratner mengatakan ada “peningkatan tajam perilaku tidak profesional dan tidak aman” kapal dan pesawat militer Tiongkok di kawasan itu. Ia merujuk pada pesawat tempur J-17 China yang secara berbahaya mencegat pesawat pengintai Australia di wilayah udara internasional, di atas Laut Tiongkok Selatan, pada Mei lalu.

“Tiongkok terus memperkuat posisinya di sepanjang perbatasan yang disengketakan dengan India, dan lebih jauh ke utara di Selat Taiwan. Di setiap wilayah ini, RRT mengubah status quo,” tambah Ratner.

Total Views: 411

Pos terkait