Saat ini, jelas Mahfud, tim di lapangan juga sedang melakukan identifikasi terhadap individu satwa yang berkonflik dengan penambahan pemasangan tiga camera trap.
‘’Ada sebanyak 10 unit yang mencakup wilayah konsesi dan sekitarnya. Untuk mengetahui satwa yang menyerang MS, tim juga memasang umpan pada titik titik tertentu dalam rangka menarik pergerakan satwa ke camera trap. Kemudian, memasang jerat di sekitar jalur jelajah satwa bersama pihak terkait,’’ katanya.
Langkah lainnya, tim dilapangan juga turut mendorong perusahaan untuk meningkatkan patroli dan pengawasan pada pusat-pusat aktivitas kerja. Kemudian, turut mengusulkan agar pihak perusahaan untuk merubah pola penempatan pondok kerja lapangan (mobile camp) menjadi lebih terpusat.
‘’Tujuannya agar para pekerja bisa lebih terkontrol dan saling menjaga serta lebih menjamin keamanan dari serangan satwa liar,’’ jelas Mahfud.
Langkah sosialisasi terkait mitigasi konflik terhadap para pekerja dan pihak yang berada di sekitar lokasi, untuk mendorong perusahaan untuk lebih meningkatkan peran satgas penanganan konflik dan melakukan patroli secara mobil.
Mahfud juga mengimbau semua pihak yang memiliki izin yang di dalamnya merupakan wilayah jelajah pergerakan Harimau Sumatera agar bisa menciptakan kondisi kerja yang bersahabat dan lebih antisipatif dengan peningkatan pengawasan melalui patroli baik pengawasan pekerjaan maupun aktivitas illegal seperti perburuan atau pemasangan jerat.
‘’Kami mengimbau agar para pekerja menjaga kewaspadaan secara rutin, melakukan Operasi Sapu Jerat, melakukan monitoring satwa liar secara rutin dan melaporkannya,’’ pungkasnya.
Baca juga: Bupati Inhil Resmikan Jembatan Dusun Sungai Prepat Pulau Burung






