Karimun (Jurnal) – Dua petenis putri asal Kabupaten Karimun Natasya Salsabila (11) dan Tania Karina (15) unjuk gigi di kejuaraan nasional tenis junior Piala Rektor Universitas Negeri Padang tahun 2018 digelar pada 6-8 Juli kemarin, Jumat (13/07).
Dua putri daerah tersebut berhasil taklukkan lawan dan meraih juara I di turnament tingkat Nasional tersebut. Natasya Salsabila meraih juara I Kelompok Putri usia 12 tahun dan Tania Karina raih juara I Kelompok Putri usia 16 tahun.
Kedua atlet tenis tersebut merupakan pasangan adik kakak asal Karimun yang telah terjun di olahraga tenis sejak usia 5 tahun. Mereka langsung dilatih orang tuanya, Kahar Daeng Makita (57) dan telah menjuarai berbagai turnamen lokal maupun nasional.
“Alhamdulillah atas raihan yang kita bawa untuk harumkan nama Karimun. Untuk Natasya ini pertama kalinya dia meraih juara I di kejuaraan Nasional, sedangkan kakaknya Tania sudah 6 kali raih juara I tingkat Nasional,” ujar Pelatih sekaligus orang tua Tania dan Natasya, Kahar Daeng Makita, Kamis (12/7).
Tania dan Natasya berhasil mengalahkan lawan- lawan mereka berasal dari Solo, Medan, Padang, Bengkulu dan Pekanbaru dengan skor telak.
“Ini merupakan hasil latihan mereka, kita sufah melakukan TC sejak bulan puasa kemarin,” katanya.
Kahar mengatakan, meski telah beberapa kali menjuarai kejuaraan lokal maupun nasional namun, kedua atlet tersebut kurang mendapatkan perhatian dari Pemerintah Daerah dalam hal ini Dispora Karimun dan KONI. Mereka selalu mengikuti kejuaraan dengan usaha sendiri dan bantuan donatur.
“Ini untuk Karimun dan Karimun, tapi kita tidak mendapatkan bantuan dari Pemerintah Daerah. Nama Karimun sudah dikenal untuk cabang olahraga tenis di tingkat nasional,” ujarnya.
Kurangnya perhatian lanjutnya, saat ini Tania telah dikontrak oleh Pemerintah Aceh untuk mewakili daerahitu dalam kejuaraan- kejuaraan tenis. Bahkan, Ia disekolahkan dan dibiayai pemerintah aceh.
“Tania sekarang di kontrak untuk mewakili daerah aceh, dia disekolahkan disana. Alhamdulillah dia berhasil raih juara satu untuk Popda Aceh, adiknya Natasya juga mau dikontrak tapi saya belum izinkan. Kalau daerah ada perhatian, saya juga tidak mengizinkan dan lebih memilih Karimun,” katanya.
Kahar mengatakan, ia telah berjuang mati- matian menciptakan atlet tenis untuk Karimun, namun perhatian pemerintah untuk mengembangkan cabang olahraga tenis sangat kecil.
Ia meminta pemerintah daerah kedepan dapat lebih memperhatikan atlet- atlet seperti Tania dan Natasya yang telah berjuang harumkan nama Karimun.
“Apabila Pemerintah Daerah mau memperhatikan, saya akan tarik kembali anak saya ke Karimun,” tutupnya.





