Dedi mengakui saat ini sampah yang terkumpul masih langsung dijual kepada pengepul karena adanya keterbatasan sarana pengolahan mandiri.
Kendati demikian, keberadaan bank sampah ini dinilai telah memberikan dampak positif dalam membangun kebiasaan baru di tengah masyarakat setempat.
“Memang saat ini kami belum memiliki alat pencacah atau fasilitas pengolahan. Namun yang paling utama adalah membangun kesadaran kolektif terlebih dahulu bahwa sampah harus dipilah dan tidak dibuang sembarangan,” katanya.
Ia mengapresiasi peran PT Timah yang konsisten dalam mendampingi pengembangan bank sampah serta meningkatkan pemahaman warga mengenai manajemen persampahan yang berkelanjutan.
“PT Timah sangat membantu, baik dalam pembangunan sarana awal maupun pembinaan. Dengan adanya pendampingan ini, masyarakat mulai memahami bahwa sampah yang sebelumnya dianggap tidak berguna ternyata bisa memberikan manfaat dan nilai ekonomi,” tutur Dedi.
Perubahan perilaku masyarakat di Desa Sawang Laut kini mulai terlihat. Warga mulai terbiasa memilah sampah organik dan anorganik dari rumah sebelum disetorkan ke bank sampah, sementara pihak sekolah dan guru juga aktif menggerakkan siswa untuk berpartisipasi dalam gerakan kebersihan tersebut. (*/rdi)
Baca juga: Pengumuman Beasiswa PT Timah 2026: 36 Siswa Dinyatakan Lolos Seleksi





