Pelanggan Keberatan Bayar Sebab Air Tidak Mengalir

BEBERAPA pelanggan air bersih di Tanjung Balai Karimun, Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau, keberatan membayar tunggakan sebab produk perusahaan milik daerah tersebut hampir lima bulan tidak mengalir.

“Masa disuruh bayar tagihan sementara dari keran di kamar mandi hampir lima bulan tidak keluar air,” kata Sutinah, warga Sei Lakam, Tanjung Balai Karimun seperti dikutip antarakepri.com, Jumat.

Sutinah mengaku didatangi petugas Unit Usaha Air Bersih (UUAB) Perusda, dan disodori rekening untuk tagihan pemakaian April 2015. Ia mengatakan, total tagihan yang harus ia lunasi sebesar Rp80.000.

“Sebagai pelanggan, kami dirugikan tetap bayar kalau pelayanannya mengecewakan, kalau sekadar bayar biaya administrasi atau bayar beban seperti tagihan listrik mungkin masih maklum, tapi jumlah tagihannya lumayan besar, sampai Rp80.000,” kata dia.

Ia menuturkan, air bersih dari Perusda sudah sejak Januari tidak mengalir ke rumahnya, akibatnya terpaksa membeli air yang dijual di lori (truk) tanki yang berkeliling ke pemukiman penduduk.

Menurut dia, biaya yang dikeluarkan untuk membeli air dari lori tersebut cukup tinggi, dalam sepekan ia mengaku menghabiskan uang hampir Rp200.000 untuk memenuhi drum dan bak mandi di rumah.

“Hitung saja berapa uang kami habiskan dalam satu bulan, bisa mencapai Rp800.000 dalam satu bulan. Kami tentu dirugikan kalau harus membayar tagihan dari Perusda,” katanya.

Perusda, kata dia, seharusnya lebih profesional dalam melayani pelanggan, terpenting Perusda agar meningkatkan pelayanan agar distribusi air bersih kepada pelanggan tetap lancar.

“Bayangkan saja, sudah lima bulan tidak mengalir. Kami tidak tahu di tempat lain, yang jelas warga di perumahan sini sudah sejak Januari membeli air lori yang harganya melonjak sejak air dari Perusda tidak mengalir,” tuturnya.

Maya, warga di permukiman yang sama mengaku membayar tagihan sebesar Rp300.000 untuk kebutuhan air bersih pada tiga rumah kontrakannya. Padahal, kata dia, air dari Perusda sudah sejak Januari tidak mengalir ke rumah kontrakannya tersebut.

“Sebetulnya keberatan membayarnya, tapi saya lunasi juga. Kami heran kenapa tagihannya tetap tinggi, sementara air sama sekali tidak mengalir,” ucapnya.

Ia menyarankan Perusda menambah sumber air agar kebutuhan pelanggan tidak terhenti. “Warga di perumahan ini semuanya bergantung pada air dari Perusda, kalau macet, kami terpaksa beli air lori, satu bak mandi ukuran dua drum harganya sampai Rp20.000,” ucapnya.

Sumber: antarakepri.com

Total Views: 180

Pos terkait