Kolaborasi Industri Galangan Kapal dan Logistik
Salah satu poin krusial dalam pertemuan tersebut adalah pembahasan mengenai biaya logistik di wilayah kepulauan. Gubernur Emanuel mengakui bahwa tantangan utama di NTT adalah tingginya biaya distribusi barang.
Merespons kendala tersebut, Amsakar menawarkan solusi konkret melalui penguatan sektor kemaritiman. Batam, yang memiliki sekitar 135 perusahaan galangan kapal, dinilai mampu mendukung kebutuhan infrastruktur transportasi laut yang dibutuhkan NTT untuk menekan biaya logistik.
Selain urusan industri, pertemuan ini juga menyinggung potensi promosi budaya dan produk lokal. Dengan keberadaan sekitar 40 ribu warga asal NTT yang menetap di Batam, Amsakar melihat adanya peluang besar untuk mempererat hubungan melalui kolaborasi kuliner, seperti promosi kopi khas NTT, serta pertukaran budaya Melayu dan budaya NTT.
Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Inklusif
Di sisi lain, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan NTT, Zet Sony Libing, memaparkan kondisi ekonomi NTT yang saat ini tumbuh sebesar 4,32 persen.
Ia berharap melalui kerja sama dengan Batam, rantai distribusi produk lokal NTT tidak lagi harus berputar melalui jalur panjang yang menyebabkan harga barang melambung.
Kerja sama ini diharapkan mampu membuka pasar baru bagi produk unggulan NTT sekaligus memperkuat basis Industri Kecil dan Menengah (IKM) di kedua daerah. Pertemuan lintas provinsi ini diharapkan menjadi tonggak awal bagi kerja sama yang lebih teknis di bidang perdagangan dan kemaritiman, sehingga sinergi antara Batam dan NTT mampu memberikan kontribusi nyata bagi pertumbuhan ekonomi nasional. (*/rom)





