Sanggar Reksa Budaya Jawa Wisuda 19 Panatacara Muda di Karangawen

Demak, jurnalterkini.id — Suasana teduh pada Ahad Wage, 23 November 2025, mengiringi gelaran Wisuda Purna Wiyata Panatacara Tuwin Pamedhar Sabda Bregada V Sanggar Seni Reksa Budaya Jawa di Desa Karangawen, Kabupaten Demak. Upacara yang berlangsung di kompleks sanggar tersebut dipimpin langsung oleh pengampu utama, Bopo Sudarmo Kusumo Diharjo, sebagai bentuk penghormatan atas kelulusan para peserta didik dalam mempelajari seni tutur dan tata upacara Jawa.

Bacaan Lainnya

Sejak pagi, ratusan tamu memadati area sanggar. Hadir dalam kesempatan itu Kepala Desa Karangawen Purhadi, Sekretaris Kecamatan Karangawen Ani Fahriyati, para pengampu sanggar seni dari berbagai wilayah di Demak, serta masyarakat sekitar yang memberi dukungan terhadap upaya pelestarian budaya Jawa.

Rangkaian prosesi dibuka dengan doa bersama dan pengumandangan lagu “Indonesia Raya”. Suasana kemudian semakin hidup melalui penampilan para siswi sanggar yang membawakan tari-tarian tradisional, seperti Gambyong, Tari Payung, Tari Merak, dan Tari Lilin. Gerak lembut para penari belia disambut tepuk tangan hangat dari para undangan. Kudapan dan hidangan tradisional turut tersaji, menambah kekentalan nuansa kultural dalam acara itu.

Memasuki puncak acara, sebanyak 19 siswa dinyatakan lulus sebagai panatacara angkatan kelima. Mereka telah menyelesaikan pendidikan yang tidak hanya menekankan kefasihan berbahasa Jawa, tetapi juga pemahaman atas filosofi, tata etika, serta nilai-nilai budaya yang melekat pada peran panatacara sebagai pembawa acara adat.

Dalam sambutannya, Kepala Desa Karangawen Purhadi menyampaikan apresiasi terhadap konsistensi sanggar dalam merawat tradisi.

“Kami berterima kasih kepada Bopo Sudarmo Kusumo Diharjo yang telah menguri-uri budaya Jawa dengan sepenuh hati. Semoga ilmu yang diberikan membawa manfaat luas bagi masyarakat,” ujar Purhadi.

Sementara usai upacara, Bopo Sudarmo menegaskan komitmennya untuk menjaga keberlanjutan tradisi melalui pendidikan seni dan bahasa.

“Kami akan terus membuka kelas berikutnya. Pelestarian budaya tidak boleh berhenti, dan generasi muda harus diberi ruang untuk belajar serta mencintai warisan leluhur,” katanya.

Acara ditutup dengan sesi foto bersama para wisudawan, tamu undangan, dan para pengampu sanggar. Momen tersebut menjadi simbol tekad kolektif untuk menjaga napas budaya Jawa agar tetap hidup di tengah derasnya arus modernitas.(PH)

Pos terkait