Longsor Terjang Candisari Semarang: 25 Warga Dievakuasi, Satu Rumah Rusak Berat

Semarang, jurnalterkini.id — Hujan deras yang mengguyur Kelurahan Karanganyar Gunung, Kecamatan Candisari, Kota Semarang, pada Rabu (10/9) sore, memicu longsor besar yang mengancam permukiman warga. Kejadian bermula sekitar pukul 14.00 WIB saat sejumlah warga mulai melihat retakan pada pondasi tebing. Tak lama berselang, hujan mengguyur selama hampir 30 menit dan menyebabkan tebing sepanjang 100 meter dengan tinggi 20 meter runtuh.

Bacaan Lainnya

Material longsoran menghantam satu rumah hingga rusak berat. Secara keseluruhan, bencana ini berdampak pada 10 kepala keluarga (KK) atau sebanyak 25 jiwa. Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Semarang, Endro Pudyo Martanto, mengatakan para warga telah dievakuasi ke tempat tinggal sementara.

“Seluruh warga terdampak langsung kami ungsikan. Untuk sementara mereka akan tinggal di rumah kontrakan yang disediakan pemerintah selama satu tahun ke depan,” ujar Endro, saat dikonfirmasi, Kamis (11/9).

Selain merusak rumah, longsoran juga menutup aliran Sungai Dueh yang berada di sekitar lokasi. Akibatnya, air sempat meluap hingga ketinggian hampir dua meter sebelum akhirnya surut kembali tanpa menimbulkan korban jiwa.

“Syukurlah, luapan air cepat surut dan tidak menimbulkan korban. Namun alat berat sulit menjangkau lokasi karena kondisi tanah masih sangat labil,” kata Endro.

Proses pembersihan material longsor hingga kini masih dilakukan secara manual. Menurut Endro, penggunaan alat berat tidak memungkinkan karena kondisi tanah yang lembek dan berisiko menimbulkan longsor susulan.

Dalam kesempatan itu, Endro juga menyinggung soal sistem peringatan dini bencana yang dimiliki Kota Semarang. Dari total 28 unit Early Warning System (EWS) yang tersebar di berbagai titik rawan banjir, dua di antaranya dilaporkan hilang.

“EWS sangat membantu memberi peringatan dini kepada warga, seperti di Perumahan Dinar Mas, Tembalang. Tapi sayangnya, ada dua unit yang hilang, salah satunya di Budak Payung,” ucapnya.

Ia menjelaskan, Kota Semarang memiliki tiga kategori Kawasan Rawan Bencana (KRB). Pertama, kawasan rawan banjir di pesisir utara seperti Semarang Utara, Gayamsari, dan Genuk. Kedua, kawasan rawan longsor di wilayah perbukitan seperti Candisari, Gunungpati, dan sebagian Gajahmungkur. Ketiga, kawasan rawan kebakaran yang umumnya berada di pemukiman padat penduduk.

Endro mengimbau masyarakat agar tetap waspada, terutama saat memasuki musim penghujan. Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi antara warga dan pemerintah dalam upaya mitigasi bencana.

“Kalau warga semakin guyub dan tanggap, maka upaya mitigasi bisa lebih efektif dan kerugian dapat diminimalisir,” ujarnya.

BPBD Kota Semarang mencatat, sejak Januari hingga awal September 2025, telah terjadi 85 bencana alam di wilayah ini. Di antaranya, 10 kejadian banjir, 41 talud longsor, 11 puting beliung, 5 pohon tumbang, 12 rumah roboh, 4 kebakaran, dan 2 rumah amblas. Total 166 warga terdampak, dengan estimasi kerugian mencapai Rp1,8 miliar.
(PH)

Total Views: 571

Pos terkait