Wali Kota Semarang, Agustina, mengukuhkan Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Kota Semarang di halaman Balai Kota Semarang./Dok.Foto.BJ.(jurnalterkini.id/Ponco)
Semarang, jurnalterkini.id – Menjelang musim penghujan yang kerap membawa potensi bencana, Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti mengukuhkan pembentukan Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Kota Semarang di halaman Balai Kota, Kamis, 11 September 2025. Forum ini diinisiasi sebagai upaya sistematis untuk memperkuat koordinasi lintas sektor dalam menghadapi bencana alam yang terus meningkat di wilayah perkotaan.
“Forum ini terdiri dari unsur lintas organisasi perangkat daerah (OPD), dan seluruh sekretaris dinas diwajibkan menjadi anggota. Tujuannya agar proses mitigasi bisa berjalan sinergis dan respons terhadap bencana menjadi lebih cepat,” ujar Agustina dalam sambutannya.
Ia menegaskan, FPRB memiliki mandat untuk membantu pemerintah dalam urusan mitigasi, pengurangan risiko, serta penanggulangan bencana. Saat terjadi bencana, anggota forum diwajibkan turut terjun langsung ke lapangan.
Pembentukan forum ini dikendalikan melalui koordinasi dengan camat dan lurah, di bawah komando Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Semarang. Agustina mengatakan, upaya ini merupakan bagian dari langkah antisipatif menghadapi potensi bencana yang meningkat saat musim hujan, khususnya periode September hingga Februari.
“Risiko longsor sangat tinggi di beberapa wilayah. Maka saat ini yang paling utama adalah membangun kewaspadaan masyarakat, sekaligus menyiapkan kebijakan terhadap bangunan yang berada di zona rawan,” kata Agustina.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Semarang, Endro Pudyo Martanto, menjelaskan bahwa FPRB menjadi wadah kolaboratif yang menyatukan berbagai elemen masyarakat dengan latar belakang berbeda. Forum ini mencakup unsur akademisi, tenaga medis, relawan, Basarnas, sekretaris dinas teknis, hingga perguruan tinggi.
“Dengan forum ini, kita bisa menggugah dan menggerakkan seluruh stakeholder. Ini bukan sekadar koordinasi administratif, tapi juga forum resmi dalam perumusan kebijakan mitigasi bencana,” kata Endro.
85 Bencana Sepanjang Tahun, Kerugian Capai Rp1,8 Miliar
Sepanjang Januari hingga awal September 2025, BPBD mencatat sebanyak 85 kejadian bencana di wilayah Kota Semarang. Rinciannya meliputi 10 banjir, 2 rumah amblas, 41 talud longsor, 11 angin puting beliung, 5 pohon tumbang, 12 rumah roboh, dan 4 kebakaran.
Sebanyak 166 warga terdampak, dengan kerugian material diperkirakan mencapai Rp1,8 miliar.
Agustina juga menyoroti persoalan banjir dan genangan, terutama di kawasan Jerakah, yang kerap tergenang saat hujan deras. Ia menyebutkan, salah satu penyebab utama adalah tersumbatnya saluran air oleh sampah dan bangunan yang menghalangi aliran.
“Penanganan genangan dan banjir ini sedang kami kebut. Saya mohon maaf jika ada pihak yang merasa terganggu. Tapi ini harus kami betulkan, meskipun tidak semua akan nyaman dengan prosesnya,” ujar Agustina menutup pernyataannya.
(PH)






