Jaksa Prancis: CEO Aplikasi Telegram Telah Dibebaskan dari Tahanan

Salah satu pendiri Telegram, Pavel Durov, saat berkunjung ke Jakarta, 1 Agustus 2017. (Tatan Syuflana/AP)
Salah satu pendiri Telegram, Pavel Durov, saat berkunjung ke Jakarta, 1 Agustus 2017. (Tatan Syuflana/AP)

Dalam pernyataan yang diunggah di platformnya setelah penangkapan Durov, Telegram mengatakan mereka mematuhi hukum Uni Eropa, dan self-control-nya sesuai “standar industri dan terus ditingkatkan.”

“Tidak masuk akal untuk mengklaim bahwa suatu platform atau pemiliknya bertanggung jawab atas penyalahgunaan platform itu,” kata Telegram. “Hampir satu miliar pengguna secara global menggunakan Telegram sebagai sarana komunikasi dan sebagai sumber informasi penting. Kami menunggu penyelesaian segera situasi ini. Telegram bersama Anda semua.”

Bacaan Lainnya

Durov adalah warga negara Rusia, Prancis, Uni Emirat Arab dan negara St. Kitts and Nevis di Karibia.

Kementerian Luar Negeri Uni Emirat Arab mengatakan hari Selasa bahwa pihaknya “mengikuti dengan cermat kasus itu” dan telah meminta Prancis agar memberi Durov “semua layanan konsuler yang diperlukan dalam kondisi mendesak.”

Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan ia berharap Durov “memiliki semua peluang untuk pembelaan hukumnya” dan menambahkan bahwa Moskow “siap memberi semua bantuan dan dukungan yang diperlukan” untuk CEO Telegram sebagai warga negara Rusia.

“Tetapi situasinya menjadi rumit karena fakta bahwa ia juga warga negara Prancis,” kata Peskov.

Telegram, yang mengatakan memiliki hampir satu miliar pengguna di seluruh dunia, didirikan oleh Durov dan saudaranya setelah ia sendiri menghadapi tekanan dari otoritas Rusia.

Pada tahun 2013, ia menjual sahamnya di VKontakte, situs jejaring sosial Rusia yang populer yang ia luncurkan pada tahun 2005.

Perusahaan itu mendapat tekanan selama penindakan keras pemerintah Rusia setelah protes prodemokrasi besar-besaran yang mengguncang Moskow pada akhir 2011 dan 2013. [voa]

Jaringan: VOA

Total Views: 431

Pos terkait