Analisis terbaru terhadap penggundulan hutan menunjukkan bahwa, berdasarkan data pemerintah, deforestasi di sekitar setiap smelter meningkat dari rata-rata 33 kilometer persegi menjadi 63 kilometer persegi. Jika seluruh 22 pabrik baru selesai dibangun, deforestasi kemungkinan besar akan meningkat secara signifikan.
Kantor berita Associated Press memverifikasi metodologi yang digunakan dalam laporan Auriga.
Sebagai negara kepulauan tropis yang luas, Indonesia adalah negara dengan tutupan hutan hujan terbanyak ketiga di dunia, yang menjadi rumah bagi bunga-bunga hutan raksasa dan spesies orangutan dan gajah yang terancam punah.
Sejak tahun 1950, lebih dari 740.000 kilometer persegi hutan hujan Indonesia, atau setara dua kali luas wilayah Jerman, telah ditebang, dibakar atau terdegradasi, menurut Global Forest Watch.
Di Lelilef Sawai, desa yang kini dikelilingi Taman Industri Weda Bay, deforestasi dan dampaknya tampak jelas. Petani Librek Loha mencoba bertahan. Ia menolak menjual lahan yang ia rawat selama empat dekade terakhir. Kini debu berwarna oranye seringkali menutupi tanamannya dan air bersih pun menjadi langka.
Dari lahan pertaniannya, ia dapat mendengar suara konstruksi bangunan dan melihat endapan berwarna oranye terang mengalir ke laut. Penelitian menunjukkan bahwa longsor jadi lebih berisiko terjadi di kawasan hutan yang gundul.
Pejabat PT Indonesia Weda Day menolak diwawancarai AP. Namun, melalui sebuah pernyataan, perusahaan itu mengatakan bahwa pihaknya telah menanam kembali pohon-pohon baru di lahan seluas 10 kilometer persegi. Perusahaan itu mengklaim memainkan peran aktif dalam mendukung standar hidup masyarakat lokal, menawarkan pembangunan ekonomi dan menyatakan bahwa zona industrinya telah memenuhi seluruh standar lingkungan. Perusahaan itu juga mengatakan pihaknya berusaha melindungi air dan telah meluncurkan program penanaman karang dan bakau.
Keluhan penduduk desa terhadap proyek Weda Bay serupa dengan keluhan dari masyarakat di sekitar lokasi pabrik peleburan nikel lainnya di seluruh Indonesia, termasuk kawasan industri kontroversial di Kalimantan dan Maluku Utara.
Mungkin akibat keluhan-keluhan tersebut, minat beberapa perusahaan Eropa terhadap nikel asal Indonesia menurun.





