Dia mengharapkan negara-negara OKI yang memiliki sumber daya minyak menggunakan sumber dayanya itu untuk melakukan tekanan secara global. Dia mencontohkan membatasi produksi minyak sebagai tekanan terhadap negara-negara pendukung Israel merupakan upaya yang efektif.
Hasbi Aswar, pengajar hubungan internasional di Universitas Islam Indonesia mengatakan OKI memang memiliki komitmen secara lisan untuk terus membela Palestina. Namun secara praktis, komitmen tersebut sulit dilaksanakan karena masing-masing anggota OKI memiliki kepentingan berbeda.
Hal itulah menyebabkan OKI bersikap lamban dan tidak efektif dalam menangani isu Palestina.
“Di OKI itu kan ada (negara anggota) yang menormalisasi (hubungan) dengan Israel, seperti negara-negara Teluk. Terus ada Turki hyang selama ini menjalin hubungan dengan Israel, kemudian Mesir, Yordania. Ada juga negara-negara OKI yang lain yang bermusuhan dengan Israel,” tuturnya.
Dia mengatakan normalisasi atau pembukaan hubungan resmi yang dilakukan negara-negara anggota OKI tidak memiliki kontribusi besar untuk menekan Israel.
Dalam kondisi saat ini, OKI harus mengambil upaya-upaya diplomatik yang lebih kuat dalam menekan Israel untuk menghentikan agresi militernya di Gaza. Dia mencontohkan negara-negara Arab bisa melarang wilayahnya digunakan untuk lalu lintas barang dan jasa sebagai salah satu upaya menekan Israel.
Menurut Hasbi, negara-negara Arab dan OKI harus satu kompak dalam menyuarakan secara lantang di berbagai forum bahwa Palestina berhak untuk merdeka. [voa]
Jaringan: VOA





