Menlu Retno: OKI Berutang Memerdekakan Palestina

Menteri Luar Neegri RI Retno Marsudi saat menghadiri acara penutupan Safari Ramadan di gedung DPR/MPR Jakarta, Senin, 1 April 2024. (Foto: INDRA YOGA/VOA)
Menteri Luar Neegri RI Retno Marsudi saat menghadiri acara penutupan Safari Ramadan di gedung DPR/MPR Jakarta, Senin, 1 April 2024. (Foto: INDRA YOGA/VOA)

Belum Optimal

Pengamat Timur Tengah dari Universitas Indonesia Yon Machmudi menilai upaya negara-negara OKI dalam membela Palestina belum optimal. Hal tersebut, lanjutnya, disebabkan oleh perbedaan sikap di kalangan anggota OKI.

Bacaan Lainnya

“Respons untuk dapat menghentikan peperangan tidak bisa kompak. Mereka mencoba untuk melakukan pendekatan ke negara-negara lain agar bisa memberikan tekanan kepada Israel, tapi tidak berhasil. Usulan Iran agar menggunakan sumberdaya minyak yang dimiliki anggota OKI guna menekan Israel juga tidak diakomodasi,” ujar Yon kepada VOA, Senin (6/5).

Menurut Yon, OKI harus kembali pada pertemuan terakhir yang memberi mandat kepada enam negara untuk bisa berupaya menghentikan agresi Israel ke Gaza. Dia mengatakan mandat itu harus dievaluasi dan apa langkah selanjutnya yang dilakukan oleh OKI dalam menghadapi rencana Israel menginvasi Rafah.

Dia mengakui negara-negara OKI, terutama negara Arab, terpecah dalam hal menyikapi kemerdekaan Palestina. Ketika mereka melakukan normalisasi hubungan dengan israel artinya mereka sudah tidak komitmen lagi terhadap visi dan tujuan dari pendirian OKI.

Di samping itu, salah satu asas pendirian Liga Arab adalah mencegah berdirinya negara Israel. Namun kenyatannya, banyak dari negara Arab bekerja sama dengan Israel dan kurang memberikan dukungan kepada Palestina.

Yon memandang momentum saat ini tepat untuk mengukuhkan kembali bahwa tidak akan ada pengakuan terhadap Israel sebelum Palestina merdeka. bagi negara-negara OKI yang sudah menjalin hubungan diplomatik, bisa mengancam Israel untuk mengevaluasi relasi mereka.

Jika mereka memilih mempertahankan hubungan, maka negara-negara OKI yang bersangkutan harus dibuktikan dengan mempercepat upaya terwujudnya kemerdekaan Palestina secara serius. Hal ini penting agar mereka tidak dianggap berkhianat terhadap rakyat Palestina.

Dia melihat Palestina bukan menjadi agenda bagi negara-negara yang membina hubungan resmi dengan Israel. Negara-negara tersebut lebih mengutamakan kepentingan nasional mereka dalam konteks kerja sama ekonomi dan pertahanan dengan Israel.

Negara-negara yang memiliki relasi resmi dengan Israel memandang Israel dengan dukungan Amerika Serikar (AS) bisa memperkuat sistem pertahanan mereka. Di samping itu, lanjut Yon, secara realistis mereka melihat kerjasama dengan Israel tidak harus diikuti dengan persyaratan negara Palestina. Karena itu, Yon menilai dukungan negara-negara Arab terhadap perjuangan bangsa Palestina sudah memudar karena kepentingan nasonal mereka.

Sedangkan Indonesia menjadi negara yang paling vokal dalam menyuarakan isu kemerdekaan Palestina. Dia menegaskan negara-negara Arab tersebut seharusnya malu kepada Indonesia, secara geografis jauh dari Palestina, tapi mendukung Palestina untuk merdeka.

Total Views: 463

Pos terkait