Yon mencatat bahwa, sebaliknya, AS menunjukkan ketidakkeinginan untuk mengambil sikap yang lebih tegas. Namun ia menganggap bahwa keputusan negara adikuasa itu untuk abstain justru membuka peluang untuk menerapkan gencatan senjata di Gaza, yang akhirnya memaksa Israel untuk mematuhinya.
Yon juga berpendapat, abstainnya AS itu dipicu oleh tindakan-tindakan Israel di Gaza yang tidak dapat ditoleransi lagi, misalnya bersikukuh ingin menginvasi Rafah yang saat ini dihuni satu juta pengungsi meski korban jiwa sudah mencapai puluhan ribu.
“Tidak ada cara yang lebih efisien selain dengan menyetujui atau membiarkan resolusi PBB ini lolos. Saya melihat sebenarnya Amerika juga tidak sabar lagi dengan kebijakan dan tindakan-tindakan yang dilakukan oleh Netanyahu (PM Israel -red),” ujarnya.
Sikap abstain tersebut, tambahnya, menunjukkan AS sebenarnya juga menginginkan terwujudnya gencatan senjata di Gaza.
Yon menyebutkan resolusi DK PBB bersifat mengikat dan pihak yang melanggar diharapkan dapat dikenakan sanksi. Jika gencatan senjata itu betul-betul dipatuhi, imbuhnya, DK PBB harus bisa memastikan resolusi dapat berjalan dengan baik dan tidak dilanggar.
Yon menambahkan, hal lain yang juga penting adalah memperkuat perundingan damai setelah terwujudnya gencatan senjata. [voa]
Jaringan: VOA





