Warga Palestina Menyambut Ramadan di Bawah Bayang-bayang Perang Gaza

Warga Palestina salat di depan masjid yang hancur akibat serangan udara Israel di Rafah, Jalur Gaza, Jumat, 8 Maret 2024, menjelang bulan suci Ramadan. (Foto: AP/Fatima Shbair)
Warga Palestina salat di depan masjid yang hancur akibat serangan udara Israel di Rafah, Jalur Gaza, Jumat, 8 Maret 2024, menjelang bulan suci Ramadan. (Foto: AP/Fatima Shbair)

Gencatan Senjata

Di Gaza, sekitar setengah dari 2,3 juta penduduknya tinggal di Kota Rafah di bagian selatan. Banyak di antara mereka tinggal dalam kondisi sederhana dengan tenda plastik, menghadapi kekurangan makanan yang parah, dan suasana yang suram.

Bacaan Lainnya

“Kami tidak melakukan persiapan apa pun untuk menyambut Ramadhan karena kami telah berpuasa selama lima bulan,” kata Maha, ibu dari lima anak. Ia biasanya selalu menyambut Ramadan dengan mendekorasi rumahnya dan mengisi lemari esnya dengan perbekalan untuk berbuka puasa.

“Tidak ada makanan, kami hanya punya makanan kaleng dan nasi, sebagian besar makanan dijual dengan harga yang sangat mahal,” katanya melalui aplikasi pesan dari Rafah, tempat dia mengungsi bersama keluarganya.

Philippe Lazzarini, kepala badan pengungsi Palestina PBB UNRWA, mengatakan dalam sebuah postingan di X bahwa Ramadan seharusnya “menghasilkan gencatan senjata bagi mereka yang paling menderita” tetapi sebaliknya bagi warga Gaza “hal ini terjadi ketika kelaparan ekstrem menyebar, pengungsian terus berlanjut & ketakutan + kecemasan muncul di tengah ancaman operasi militer di #Rafah.”

Di kota Al-Mawasi di Gaza selatan, pejabat kesehatan Palestina mengatakan 13 orang tewas dalam serangan militer Israel di area tenda tempat ribuan pengungsi berlindung.

Di Tepi Barat, yang telah menjadi saksi kekerasan yang mencatat rekor selama lebih dari dua tahun dan mengalami peningkatan kekerasan lebih lanjut sejak perang di Gaza, situasinya juga sangat tegang. Jenin, Tulkarem, Nablus, dan kota-kota lain yang bergejolak siap untuk menghadapi potensi bentrokan lebih lanjut.

Di Israel, muncul kekhawatiran adanya insiden tabrakan mobil atau serangan penikaman oleh warga Palestina. Hal tersebut mendorong peningkatan persiapan keamanan.

Bagi banyak warga Gaza, tidak ada pilihan lain selain mengharapkan perdamaian.

“Ramadan adalah bulan yang penuh berkah walaupun tahun ini tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, tetapi kita tetap tabah dan sabar, dan kita akan menyambut Ramadan seperti biasa, dengan dekorasi, nyanyian, dengan doa, puasa,” kata Nehad El- Jed, yang mengungsi bersama keluarganya di Gaza.

“Ramadan mendatang, kami mendoakan Gaza kembali, semoga segala kehancuran dan kepungan di Gaza berubah, dan semua kembali dalam kondisi yang lebih baik,” harapnya. [voa]

Jaringan: VOA
Editor: Anton Marulam

Total Views: 511

Pos terkait