Jagoan Kalah, Timses Capres dan Caleg Mengaku Stress

Salah satu timses capres dan timses caleg diperiksa alat bernama heart rate variability (HRV) sebelum melakukan konsultasi kesehatan mental dengan psikiater atau psikolog. (VOA/Ghita Intan)
Salah satu timses capres dan timses caleg diperiksa alat bernama heart rate variability (HRV) sebelum melakukan konsultasi kesehatan mental dengan psikiater atau psikolog. (VOA/Ghita Intan)

Dinkes DKI Jakarta Serukan Layanan Kesehatan Fisik dan Mental Bagi Peserta Pemilu

Kepala Seksi Pelayanan Medik dan Keperawatan RSUD Taman Sari dr Ngabila Salama mengatakan pihaknya bekerja sama dengan RS Soeharto Heerdjan di Grogol, Jakarta Barat dan Puskesmas Kecamatan Taman Sari untuk melayani pemeriksaan kesehatan mental petugas KPPS, simpatisan pemilu dan masyarakat umum secara gratis. Mereka menargetkan 100 orang. Namun saat VOA tiba Selasa siang (20/2), jumlah yang mendaftar sudah 95 orang, yang terdiri dari empat petugas KPPS, dan 12 anggota timses caleg.

Bacaan Lainnya

“Kami mendapat instruksi dari Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta untuk memberikan layanan kesehatan fisik dan mental kepada partisipan pemilu. Khusus petugas KPPS, awalnya hanya pemeriksaan kesehatan fisik, tetapi kemudian diperluas; sementara layanan kesehatan mental dalam hal ini bagi caleg dan juga timses,” ungkap dr Ngabila.

Untuk melakukan pemeriksaan kesehatan mental, ada dua cara yang dilakukan, lewat konsultasi online dengan psikiater dari RSUD Taman Sari, dan pemeriksaan langsung yang disertai penyuluhan kesehatan jiwa bagi 100 orang pertama secara gratis. Khusus pemeriksaan langsung, pihak rumah sakit menggunakan dua unit alat canggih heart rate variability (HRV) milik RS Soeharto Heerdjan.

Alat HRV yang mirip dengan alat saturasi oksigen ini akan dikenakan di tangan pasien dan direkam selama tiga menit. Mesin tersebut, tambah dr Ngabila, akan merekam interpretasi gelombang rata-rata denyut jantung, dan juga gelombang tingkat stress dari seseorang.

“Itu nanti bisa diinterpretasikan oleh psikolog atau psikiater itu apakah ada stres yang berat pada seseorang ataupun potensi terjadinya gangguan kesehatan mental. Lamanya tiga menit, lalu dilanjutkan dengan konsultasi hasil oleh psikolog,” tambahnya.

Dokter: Jangan Anggap Remeh Kesehatan Mental

Sejak perebakan luas dan berakhirnya pandemi COVID-19, gangguan kesehatan mental yang dialami masyarakat diketahui cukup tinggi. Tak sedikit yang berupaya mengakhiri hidup karena berbagai tekanan yang dialami.

Oleh karena itu dr Ngabila meminta masyarakat tidak menganggap remeh isu kesehatan mental, terlebih karena saat ini banyak fasilitas yang memberikan layanan konsultasi dan dapat menggunakan BPJS Kesehatan.

“Jangan takut di stigma, jangan takut terkesan kita tidak waras dan lain sebagainya, Tidak boleh lagi ada stigma seperti itu. Jadi, diharapkan kita dapat mengakses layanan kesehatan terdekat dengan pakarnya langsung, tidak ke alternatif dan lain sebagainya karena justru itu betul-betul self love kita, rasa sayang kita dan itu supaya kita bisa benar-benar sembuh sempurna dan tidak masuk pada kegangguan jiwa,” pungkasnya. [voa/ghita intan]

Jaringan: VOA

Total Views: 561

Pos terkait