Gaji, Pendidikan dan Kebudayaan
Selain masalah buruh migran dan dwi kewarganegaraan, isu lain yang juga menjadi sorotan adalah mengenai gaji, pendidikan dan kebudayaan yang menjadi alasan bagi diaspora Indonesia untuk berpartisipasi dalam pemilu kali ini.
Jason, pekerja media mandiri Indonesia yang berada di Taipei, Taiwan menggarisbawahi rendahnya gaji di Tanah Air. Ia berharap presiden terpilih akan memberikan perhatian terhadap isu tersebut.
“Menurut saya, gaji pokoknya agak terlalu rendah, jauh lebih rendah dibandingkan di Taiwan,” tukasnya.
Lain lagi dengan Ratnasari, diaspora Indonesia yang juga tinggal di Taipei. Ia memfokuskan pada isu pendidikan. Menurutnya, Indonesia memiliki sumber daya manusia yang melimpah. Namun, ironisnya banyak generasi muda yang hanya memiliki tingkat pendidikan rendah.
“Sulit bagi mereka untuk mendapatkan pekerjaan karena persyaratan kualifikasi untuk mencari pekerjaan agak tinggi. Jadi saya berharap presiden baru bisa mengubah generasi ini. Memberikan pendidikan yang ramah kepada semua orang di Indonesia,” ujarnya.
Sementara Gladhys Elliona, diaspora Indonesia yang saat ini tengah berada di Mogi das Cruzes, São Paulo, Brazil, berharap masalah kebudayaan juga turut mendapat perhatian dari para calon pemimpin di masa depan.
“Karena aku nggak liat ada atase kebudayaan di KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia). Aku sebagai pelaku budaya aku merasa penting untuk enhancing (meningkatkan-red) hubungan [dengan] Amerika Selatan di bidang kebudayaan, yang sebetulnya lebih relatable dari negara lain,” ungkapnya. [voa]
Jaringan: VOA





